Oleh: rullyindrawan | Januari 25, 2011

Kita Masih Butuh Koperasi

KITA MASIH BUTUH KOPERASI

Rully Indrawan

Peran koperasi dalam konstelasi ekonomi nasional tidak perlu diragukan lagi. Hal ini sebagaimana yang disampaikan presiden saat Harkopnas ke-63 yang lalu yang menyatakan, ada empat (4) alasan mengapa koperasi masih diperlukan di negara kita. Pada dasarnya (a) koperasi beserta tiga pelaku ekonomi lain, secara imperatif adalah alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat, (b) pengalaman krisis 1998, koperasi dan UMKM benar-benar menjadi penyelemat, (c) koperasi bisa mengatasi kemiskinan dari dalam masyarakat sendiri, (d) koperasi dapat menjadi fasilitator untuk tumbuh kembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah tercatat sejak tahun 2005-2010 terjadi kenaikan koperasi sebanyak 29,7% dengan jumlah anggota meningkat sebanyak 6,7%. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor koperasi di tahun 2010 sebanyak 351.494 meningkat sebanyak 13,8% sejak tahun 2005. Dari sebanyak 175.000 koperasi di tahun 2010 dengan jumlah anggota sekitar 29 juta orang hanya sebanyak 52.856 yang melaksanakan RAT dan dari 175.000 koperasi 80 ribu belum berbadan hukum. Memperhatikan data pertumbuhan tersebut maka tampak Koperasi belum menjadi sokoguru ekonomi di Indonesia yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat dan menjadikan masyarakat merasa perlu menjadi anggota koperasi. Patut diakui, permainan jumlah unit dalam mengukur keberhasilan koperasi, telah mengecoh kita terhadap peran yang sebenarnya diharapkan oleh sang soko guru ekonomi ini
Koperasi tidak bisa berperan seperti masa lalu. Banyak peran dan strategi kemanfaatan koperasi diambil alih oleh pelaku usaha lain. Jadi peran esensial apa yang diemban sang soko guru ini dalam konteks kekinian?
Saat ini jumlah pengusaha kecil mikro dan menengah di Indonesia ada 51,2 juta unit (BPS, 2010). Dari 51,2 juta unit ini sekitar 50,7 juta unit (99%) merupakan Usaha Mikro dimana omzetnya tidak lebih dari Rp 300 juta dan asetnya di bawah Rp 50 juta. Kelompok berikutnya itu adalah usaha kecil (1,01%), usaha menengahnya (0,08%) dan usaha besar (0,01%). Usaha mikro, sebagian besar ada di sektor pertanian dan perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan dan kelautan. Untuk di daerah perkotaan ada juga yang bergerak di sektor jasa dan perdagangan. Ini yang menyebabkan posisi Indonesia menurut penilaian World Economic Forum 2010-2011 masih berada pada posisi transisi diantara factor driven dan eficiency driven dengan income percapita sebesar US $ 2.329 bandingkan dengan Malaysia sebesar US$ 6,897 dan Singapore US$ 17,700. Bila dilihat dari kontribusi terhadap PDB, UMKM mencakup 55,6% PDB, dan sisanya sebesar 44,4% merupakan Usaha besar. Tenaga kerja yang diserap oleh UMKM 97,4%, jadi konglomerat yang menguasai 44,4% PDB itu kontribusi terhadap pekerja hanya sekitar 3%. Jumlah di atas tidak memiliki makna apa-apa bila tidak didukung oleh daya saing yang kuat. Persaingan di era globalisasi ini, mereka tidak bersaing satu sama lain tetapi harus bersaing dengan pengusaha dan produk yang berasal dari negara lain. UMKM secara nyata juga menghadapi pasar bebas dengan konsekuensi tuntutan globalisasi dengan memasuki ACFTA, AIFTA dan Asean Community di tahun 2015. Posisi strategis koperasi dalam meningkatkan daya saing UMKM adalah menjadi tempat berhimpunnya UMKM dalam menghadapi dinamika pasar global. Bersaing dengan kekuatan berhimpun memiliki potensi lebih kuat bila hanya melakukan persaingan head to head dengan pelaku UMKM luar negeri.
Peter Davish dari Universitas Leicester mengatakan koperasi dibentuk dan dioperasikan untuk bersaing dalam pasar bebas. Koperasi itu instrument bagi banyak orang untuk memasuki persaingan pasar bebas tanpa opsi koperasi tidak ada pasar bebas, banyak orang tidak bisa memasuki persaingan kecuali di dalam tingkat persaingan yang tidak setara. Ini menjadi penting sekali oleh karena itu Peter Davis mengatakan koperasi harus mempunyai keunggulan kompetitif melalui profesionalisme manajemen dengan menggunakan asas-asas manajemen modern begitu bisa berkembang terus sampai world class manajemen koperasi.
Boleh jadi sementara orang bertanya, seberapa mungkin koperasi mampu menjalankan peran penting itu. Maklum sementara ini koperasi dalam mind set kita diposisikan dalam skala usaha kecil yang lemah. Penempatan koperasi dalam nomenkaltur politis bersama UMKM (Kementerian dan Dinas) membenarkan kalau koperasi seyogyanya main di tingkat marginal. Padahal di negara lain, koperasi sudah menjadi raksasa, dengan memberikan kontribusi sangat signifikan terhadap perekonomian. Di Jepang, koperasi terbesar di dunia, Zenoh, melayani 99,9% petani di negara tersebut. Di tahun 2005 mampu memiliki volume usaha sebesar USD 63.448.881.360. Koperasi Pemasaran
SUNKIST GROWERS Amerika Serikat, memiliki volume usaha sebesar USD 1.005 juta di tahun yang sama. Demikian pula di tahun yang sama, Koperasi Pertanian NATIONAL AGRICULTURAL COOPERATIVE FEDERATION (NACF). Korea Selatan memili aset USD199.783 juta US. Bandingkan dengan APBN kita. Masih banyak contoh lain di Perancis, Jerman, Itali, Belanda, Singapura, atau malahan Malaysia, yang memiliki Koperasi Perbankan Syariah BANK KERJASAMA RAKYAT Malaysia, dengan volume usaha di tahun 2005 sebesar USD 247,5 juta. Kita? Bisa!


Responses

  1. Betul sekali pak, kita masih dan memang membutuhkan koperasi. Ini menjadi solusi kebangkitan ekonomi, hanya saja memang masih butuh perbaikan di sana-sini terutama tenaga penggerak (SDM) koperasi. Apabila SDM nya baik maka akan menjadi jalan untuk penyelesaian berbagai masalah dan kendala yang saat ini masih dihadapi oleh koperasi di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: