Oleh: rullyindrawan | Desember 10, 2010

KRISIS EKONOMI (kembali) DI DEPAN MATA

KRISIS EKONOMI (kembali) DI DEPAN MATA
Rully Indrawan

Pesta demokrasi telah usai, banyak harapan sekaligus meninggalkan banyak kekecewaan. Sebagai sebuah game fenomena itu wajar-wajar saja. Namun dalam perspektip lain, yakni kehidupan ekonomi masyarakat, usainya pemilu meninggalkan banyak kekhawatiran luar biasa.

Bagaimana tidak, setidak-tidaknya dalam tiga (3) bulan terakhir ini, ekonomi kita digerakan oleh sebelas ribuan caleg yang bareng berbelanja keperluan kampanyenya.
Catatan saya tidak kurang dari satu triliun para caleg memberi kontribusi kepada peredaran uang di masyarakat dalam kurun waktu itu. Maka selesainya pesta itu, meniscayakan dampak senyatanya dari krisis ekonomi global akan sangat terasa di masyarakat.

Krisis ekonomi global sudah sejak akhir tahun lalu terasa di berbagai negara. Puluhan sampai ratusan ribu orang sudah mulai ngantri di PHK, tingkat harga melonjak tinggi. Dua bulan yang lalu, saat berkunjung ke Jepang saya harus merogoh saku tiga kali lipat lebih dalam, untuk makan dengan menu yang sama, di pojok kantin yang sama, pelayanan yang sama; di banding tahun lalu pada bulan dan mingu yang sama. Demikian pula di Malaysia, kebun-kebun kelapa sawit sudah mulai ditumbuhi ilalang karena dirumahkannya pekerja. Itu bisa disaksikan bila kita keluar dari bandara menuju Bandar Kuala Lumpur, padahal tiga bulan lalu belum setinggi itu ilalangnya. Pertumbuhan ekonomi di AS, Jepang, dan Negara-negara eropa diproyeksikan negatip pada tahun 2009 ini. Demikan pula proyeksi volume perdagangan dunia, setelah turun di sepanjang tahun 2008, di 2009 ini akan semakin parah. Tanpa ada seorang pun ahli yang sanggup memprediksi secara akurat kapan krisis ini berakhir. Subhanallah, itu sekarang ada di depan mata kita.

Belajar dari 1998
Krisis ekonomi 2008 memiliki beberapa kesamaan dengan krisis 1998. Sama-sama berawal dari krisis keuangan. Perbedaannya krisis 1998 adalah krisis Asia dimana Negara kita yang terkena paling parah, sedang saat ini krisis ekonomi global. Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK) saat itu muncul sebagai penyelamat ekonomi rakyat. Produksi mereka selain bisa lebih efisien di pasar dunia, juga mampu menyerap tidak kurang 85% dari tenaga kerja kita.

Penyerapan tenaga kerja boleh jadi masih bisa diandalkan saat ini, seiring dengan rontoknya industri besar dan sektor formal pada umumnya. Namun untuk ekspor tidak akan semudah 1998, karena masalahnya bukan sekedar pada efisiensi, namun pada merosotnya daya beli masyarakat dunia. Jadi mau dijual kemana?

Kecenderungan semua negara akan melakukan optimalisasi produksi dalam negeri. Malaysia sudah mulai dengan promosi “beli barangan Malaysia”. Sementara kita untuk yang kebutuhan paling primer saja, muatan impornya tinggi. Makanan yang paling umum tersaji di meja makan kita, seperti tahu, tempe, kecap, mie, apalagi buah-buahan, bahan bakunya berasal dari luar. Boleh jadi nasi yang kita suap tadi pagi juga berasal dari beras Vietnam.

Parasut Pengaman
Ibarat perang, musuh kita sudah di depan pintu, ratusan juta perut anak bangsa harus diisi, jutaan anak balita membutuhkan asupan bergizi, generasi muda kita membutuhkan pendidikan yang bermutu, peradaban harus tetap berjalan. Menurut saya ada tiga langkah strategis yang harus diambil, yakni:

Pertama, jadikan UMKMK sebagai basis pertahanan ekonomi rakyat kita. Fasilitasi tumbuhnya kelembagaan yang sehat, perbanyak manusia yang kompeten untuk mengelolanya, tumbuhkan mental kemandirian usaha, buat kebijakan afirmasi yang ikhlas dan istiqomah bagi UMKMK, tumbuhkan daya hidup pasar tradisional, buat jaringan informasi dan basis data yang bisa diakses oleh kelompok ini dengan baik.
Dalam konteks masyarakat madani, peran asosiasi seperti Dekopin dan Kadin dalam proses penguatan ini menjadi penting. Namun sebagai agen penguatan asosiasi ini pun harus sehat duluan. Untuk itu membutuhkan revitalisasi dan reorientasi, serta penyatuan pandangan diantara pelaku organisasi, dalam melihat permasalahan ini dengan jernih, cepat dan akurat.

Kedua, Kini saat tepat untuk menggelorakan kemandirian ekonomi. kampanye “cintailah produksi dalam negeri” yang digagas Prof. Ginandjar Kartasasmita taatkala menjadi Menmud Produksi Dalam Negeri di pertengahan tahun 80-an harus kembali digelorakan. Jangan biarkan fundamen ekonomi kita disimpan di luar negeri.
Pejabat harus memberi contoh untuk itu, misal taatkala menjamu tamu suguhkan ubi cilembu, awug dari beras Cianjur, buah arumanis Indramayu, dan sejenisnya. Buang kebiasaan berfikir pragmatis yang keliru, misal memberi bantuan kepada masyarakat kena musibah dengan mie instant, karena mudah dalam memasak, padahal untuk jangka panjang mengikat pola konsumsi masyarakat kepada gandum. Di Papua sana, sekarang lebih susah menemukan pepeda, makanan khas mereka turun temurun, ketimbang mie instant, yang pohon gandumnya pun mereka tidak pernah lihat.
Kemandirian adalah masalah mind set, ada yang bisa digarap dalam jangka pendek namun ada juga berdimensi jangka panjang. Untuk jangka pendek, kelompok elit harus memberi contoh dalam pola kehidupan dan kebijakan, sebagaimana dikemukakan di atas. Namun jangka panjang harus dilalui melalui mekanisme pendidikan. Momentum kenaikan anggaran pendidikan menjadi 20% ini saat yang tepat untuk membenahi sistem dan prioritas pendidikan kita.

Ketiga, bangun dengan sungguh-sungguh ekonomi pedesaan. Buatlah sistem dimana nilai tambah ekonomi lebih banyak jatuh di pesedaaan. Petani miskin, nelayan sengsara bukan lagi berita, dan seyogyanya bukan lagi semata hanya jadi bahan pidato; harus menjadi asumsi yang harus diperbaiki secepatnya. Di era krisis ini, rakyat setidak-tidaknya harus makan syukur dengan asupan gizi yang baik. Dan desa adalah tempat yang tepat untuk memulainya.
Harus diakui bahwa saat ini redistribution of income untuk pedesaan dengan angka signifikan hanya dilakukan dalam tiga kegiatan, yakni masa mudik, kiriman TKI, dan pilkada/Pemilu. Tiga-tiganya absurd dan menyesakkan. Sementara setiap hari iming-iming hadiah motor dan sejenisnya selalu mereka lihat di KCP atau bank unit, merangsang mereka untuk menaruh uang recehannya kembali masuk ke perbankan guna membiayai ekonomi perkotaan (back wash effect). Jadi dengan demikian investasi, dan nilai tambah tidak pernah jatuh di desa. Kalau mekanisme itu terus berlanjut, boleh jadi masyarakat desa akan mengatakan, kami tidak membutuhkan pemerintahan.

Kesimpulan
Ekonomi kita dalam beberapa bulan ke depan membutuhkan langkah sigap berupa penguatan kelembagaan ekonomi rakyat yang akan menopang tumbuhnya budaya kemandirian ekonomi, dan berkembangnya ekonomi pedesaan. Idielogi koperasi memiliki potensi besar untuk berperan dalam menggulirkan tiga ide tersebut. Saya tegaskan, hentikan praktik berkoperasi yang keliru dan hanya life service untuk kepentingan sesaat dan dalam jangka panjang tidak menguntungkan siapapun.
Kebijakan jaring pengaman sosial (social safety net) yang dilakukan seyogyanya menjadi investasi untuk perubahan mind set masyarakat bukan semata program belas kasihan. Program belas kasihan sangat mungkin diterapkan, sebagai mana pesan konstitusi, kepada fakir miskin. Tapi akan berakibat buruk bila diterapkan secara gebyah uyah karena justru akan melanggengkan mind set ketergantungan. Audzubilah himindzalik. Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: