Oleh: rullyindrawan | Desember 8, 2010

ACFTA 2010 dan Dampaknya bagi Jabar

ACFTA 2010 dan Dampaknya bagi Jabar
Rully Indrawan
Kekhawatiran sebagian kalangan pada saat pemilu yang lalu, tentang besarnya bahaya neo-lib, kini mulai muncul nyata di depan mata. pemberlakuan Asean-China Free Trade Aggrement (ACFTA) yang bakal diberlakukan awal 2010 ini, mulai menimbulkan rasa was-was. Pelaku bisnis dan berbagai pihak mengkhawatirkan pemberlakuan ACFTA ini akan membuat industri dan suplai domestik tersingkir karena serbuan produk luar, khususnya China. Setidak-tidaknya ada 10 sektor industri nasional yang akan terancam, yakni tekstil, makanan dan minuman, petrokimia, peralatan pertanian, alas kaki, fiber sintetik, elektronik (kabel, perlatan listrik), permesinan, jasa engineering dan sektor-sektor lain yang terkena dampak, serta besi baja.
Selain itu pula diduga akan memicu membengkaknya angka pengangguran. Menurut API pada tahun 2009 saja, akibat serbuan tekstil Cina yang murah, menyebabkan 67.000 pekerja pertekstilan kehilangan pekerjaan di Jawa Barat. Apa lagi bila sudah dilegalkan di tahun ini. Apa dan bagaimana akta perjanijian yang telah ditandatangai November 2002 di Pnhom Penh Kamboja tersebut oleh Kepala Negara Asean dan China, berdampak pada ekonomi khususnya Jawa Barat. Lantas mengapa perjanjian yang telah ditandatangi delapan tahun yang lalu baru menghentak kita, sesaat mulai akan diberlakukan?
Fenomena pasar bebas dengan kelebihan dan kekuarangan, sadar atau pun tidak, telah kita putuskan. Free Area Trade adalah suatu bentuk kerjasama ekonomi regional dimana perdagangan produk-produk orisinal negara-negara aggotanya tidak dipungut bea masuk. Dengan kata lain ”internal tarif” antara Negara anggotanya menjadi 0 %, sedangkan masing-masing negara memiliki ”external tarif” sendiri-sendiri. Sebenarnya bentuk ini bisa menguntungkan bila kita benar-benar mempersiapkan diri dengan memperkuat sektor riil agar bisa bersaing. Faktanya Kebijakan-kebijakan yang selama ini digulirkan, seperti paket-paket kebijakan perbaikan iklim investasi dan pemberdayaan UMKM, kebijakan countercyclical untuk menghadapi dampak krisis keuangan global, dan kebijakan debottlenecking; belum menampakan hasil untuk meningkatnya daya saing industri kita. Alhasil munculnya kekhawatiran ACFTA ini akan lebih memperlebar negatip neraca perdagangan kita khususnya dengan China .

Dampak bagi Jabar
Pemberlakukan Free Trade Area ini bagi ekonomi Jabar, khususnya industri, sebenarnya berpotensi positif, bila tidak melibatkan China. Meskipun Vietnam industri tekstilnya mulai menggeliat, Thailand dengan hasil pertanian yang luar biasa. Namun kita masih memiliki daya saing yang cukup baik, khususnya pada aspek harga. Akan tetapi dengan China kita amat sulit bersaing. Dengan system dumping, tenaga kerja murah, dan rendahnya jaminan kualitas menyebabkan produk mereka menjadi amat kompetitip di pasar dalam negeri yang cenderung lebih berorentasi pada harga murah.
Sektor pengolahan yang menjadi unggulan Jawa Barat (Jabar) di tahun 2008 dalam pembentukan PDRB, pada triwulan I tahun 2009, justru memberikan kontribusi terhadap pelambatan ekonomi regional. Beberapa perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi, baik dengan merumahkan sebagian tenaga kerjanya maupun melakukan PHK. Hal itu seiring dengan gempuran produk China di pasar-pasar kita. Saat itu aggregat demand dunia merosot akibat krisis global tahun yang lalu. Produk-produk China juga menyerang pasar negara-negara yang konsumsinya tinggi. Dengan skema perdagangan konsinyasi atau bayar belakangan dan kredit. Strategi ini mengkawatirkan banyak negara termasuk AS pun terpaksa melanggar kesepakatan Multi-Fibre Arrangement phase-out dengan mengecualikan China dari liberalisasi perdagangan tekstilnya.
Selain produk tekstil, serbuan produk China pada mulanya tidak menarik perhatian karena umumnya hanya masuk ke segmen pasar menengah ke bawah. Namun justru dampaknya amat terasa di tingkat masyarakat, mereka dengan mudah menyingkirkan produk UMKM dosmetik. Antara lain buah-buahan dan hortikultura lainnya, perikanan, makanan minuman, obat-obatan, jamu-jamuan, kosmetik, pakaian jadi, alas kaki, mebel, keramik, barang kerajinan, dan lain-lain.
Terlepas pada mulanya keikutsertaan kita dalam ACFTA merupakan strategi untuk memperluas ekspor dan investasi atau keterpaksaan. Namun harus diakui ACFTA akan memberikan dampak sistemik terhadap aktivitas ekonomi mayarakat. Kalangan DPR sudah meminta agar ACFTA ini ditangguhkan. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa baru sekarang itu kita sadari? Lantas apa yang telah kita lakukan dalam delapan tahun terakhir ini untuk memperkuat daya saing industri lokal kita, bilamana memang free tade sudah menjadi pilihan kita? Wallahualam.

FTA sebuah keniscayaan dalam kecenderungan ekonomi global


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: