Oleh: rullyindrawan | Desember 2, 2008

MENYIASATI BUDAYA LOKAL DALAM LABIRIN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN

Rully Indrawan

 

A

dalah sebuah keniscayaan yang sulit terbantahkan bahwa paham internasionalisasi (baca, globalisasi) sudah ada dalam kehidupan kita. Setelah itu apa yang harus dilakukan agar budaya lokal dapat tetap hadir di tengah masyarakat Sunda, setidak-tidaknya terakomodasi dalam program estafeta budaya lewat pendidikan.

Demikian inti pesan saresehan yang digelar oleh keluarga besar UPI tanggal 29 April yang lalu, selepas penyerahan penghargaan Rancage 2006. Saat itu, penulis mendapat kesempatan berharga bisa membicarakan masalah penting itu bersama Ajip Rosidi, Muslimin Nasution, Bana Kartasasmita, Sunaryo Kartadinata, Uu Rukmana, dan dipandu oleh Chaedar Al Wasilah.   

Banyak literatur yang mengemukakan bahwa, internasionalisasi sering dimaknai sebagai suatu tatanan yang berciri uniformistic. Tidak tersedia ruang untuk terjadinya disparitas budaya dan tumbuhnya budaya lokal. Walau  arah uniformistic itu dilalui lewat proses kompromi dari keragaman yang ada, namun harmonisasi dilalui melalui   mekanisme yang lazim berlaku dalam sistem ekonomi pasar. Dimana penguasaan source ekonomi berperan siginifikan dalam penentuan hasil akhir. Sehingga banyak orang berpendapat internasionalisasi erat kaitannya dengan pengglobalan kapital.

Fenomena kapitalisme global terus berkembang dengan cepat pasca perang dingin usai. Terlepas setuju atau tidak, saya termasuk orang yang beranggapan, bahwa ekspansi kapitalisme global sulit terhalangi lagi dan akan menjadi basis uniformitas budaya mondial, saat ini maupun di masa datang. Dan ekspansi itu terus merambat ke seluruh sektor kehidupan, termasuk di dalamnya pendidikan. Bentuk ekstrim dari ekspansi kapitalisme global dalam bidang pendidikan adalah membawa lembaga pendidikan menjadi mesin pencetak tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kapitalistik.

Industralisasi pendidikan terlihat dengan  diserahkannya arah, tujuan, dan bentuk penyelenggaraan pendidikan pada kebutuhan pasar (customer driven). Masyarakat mau membayar berapapun biaya suatu kegiatan pendidikan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan praktisnya. Merembaknya bimbingan belajar mengalahkan segalanya usaha sistimatis para guru di kelas-kelas konvensional. Fenomena pemenuhan kebutuhan pragmatis juga berlaku untuk penyelenggaraan pendidikan internasional. Ada dua penyebab utama kehadiran pendidikan (baca, sekolah) internasional,  pertama, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia semakin menyadari bahwa pendidikan internasional makin penting di perekonomian global. Dan kedua, globalisasi karir juga memaksa masyarakat mengambil kualifikasi internasional agar tidak ketinggalan.

Adagium ”pendidikan yang baik membutuhkan dana yang cukup” menjadi pembenaran terhadap penetapan modal sebagai faktor penting dalam pendidikan. Dan uang juga yang menjadi daya tarik hadirnya ”bisnis pendidikan”. Celakanya sisdiknas kita memberi peluang untuk tumbuhnya hal itu. Sejak tahun ini mulai diberlakukan kebijakan diijinkannya perguruan tinggi asing (PTA) hadir di Indonesia  kota Bandung akan resmi di mulai tahun 2007. Kebijakan ini akan memancing datangnya PTA berlabel (baca, beritikad) macam-macam. Bagi PTA yang ”asal cari untung” Indonesia merupakan lahan subur untuk mengeruk keuntungan. Data dari Dirjen Pendidikan Tinggi, Depdiknas menunjukkan saat ini 4 juta mahasiswa terdaftar pada lebih kurang 2381 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Dengan jumlah penduduk usia 19-24 tahun sebesar lebih kurang 28 juta orang, berati tingkat partisipasi pendidikan tinggi nasional baru sekitar 14 persen saja.

Ada apa dengan pendidikan internasional?

Fenomena masuknya pendidikan internasional (juga, PTA) bukan hanya sekedar ketakutan situasi persaingan yang makin memanas. Atau menguapnya sebagian sumberdaya ekonomi nasional ke luar negeri lewat PTA jadi-jadian. Namun lebih jauh dari pada itu rusaknya sistem nilai dan hilangnya simpul peradaban yang akan terasa dampaknya sampai pada beberapa generasi ke depan.  Dampaknya bukan sekedar, seperti berubahnya kecenderungan masyarakat saat ini dari makan jeruk Pontianak menjadi jeruk Cina. Atau terkaparnya kehidupan petani lokal karena maraknya produksi pertanian eks-import. Jelas lebih parah dari itu. Karena keruksakan pranata pendidikan akan berdampak sangat panjang terhadap peradaban suatu bangsa.

  Salah satu karakter kapitalisme global adalah sekulerisme. Gejala sekulerisme sebenarnya juga tercium pekat dalam undang-undang sisdiknas kita, taatkala pendidikan agama didikotomiskan dengan pendidikan umum dan kejuruan. Pemisahan imperatip pendidikan agama di luar pendidikan umum dan kejuruan, dapat memiliki makna, bahwa pendidikan agama tidak menjadi bagian yang terintegrasi dengan kedua jenis pendidikan itu. Sehingga menjadi wajar kekhawatiran sementara pihak tentang kemungkinan terjadinya kekeringan spiritual dalam muatan pendidikan dan pengajaran kita di massa datang.

Sebagaimana diungkap di atas, internasionalisasi sulit terbendung. Sekolah dan kelas internasional akan segera memenuhi papan iklan di kota-kota besar kita. Sejauh berpegang pada standar nasional pendidikan, kehadiran lembaga pendidikan internasional syah-syah saja. Akan tetapi bila tidak, tampaknya perlu penyikapan yang jelas dari kelompok cendekia agar masyarakat kebanyakan tidak menerima getah praktik kapitalisme global yang amat sangat pragmatik dan berdampak luas pada generasi mendatang.

Penyikapan tidak selalu harus bernada menerima atau menolak. Hal yang penting dilakukan oleh kita, adalah merekontruksi pemahaman tentang konsep internasionalisasi maupun internasionalisasi pendidikan. Agar upaya menginternasionalkan pendidikan kita tidak bertabrakan dengan kepentingan kita membangun bangsa secara utuh.  Dalam perspektip lain ngigeulan jaman harus berdampingan dengan keinginan dan kemampuan ngigeulkeun jaman. Kalau tidak, kita harus puas dengan posisi sub-ordinasi dalam peradaban dunia, seperti saat ini.

Saat ini standar pendidikan internasional sering hanya ditandai dengan penggunaan bahasa internasional saja. Padahal pendidikan internasional harus dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan anak didik berpikir secara terbuka dan meng-internasional tanpa meninggalkan jati diri sebagai manusia berahlak lokal. Open and international minded perlu terjadi,  karena senang atau tidak senang, para anak didik kelak akan menjadi manusia yang ‘berwarga negara internasional’ atau global citizent. Akan tetapi kesadaran bahwa mereka lahir dan besar dalam lingkup kultur tertentu mutlak ditanamkan.

   Secara historis masyarakat Sunda, cukup terbuka dalam mensikapi perubahan paradigma pendidikan. Masa kerajaan Tarumanegara (358-669M), mandala kawikwan (= kawikuan) merupakan lembaga pendidikan yang diberi tugas untuk menggembleng para calon sinuhun kerajaan. Kemudian di masa kerajaan Kendan/Galuh serta kerajaan lainnya sekitar tahun 536-1297M) peran itu   digantikan oleh Kabuyutan. Masa kerajaan Pakuan Padjajaran (1311-1521M) lembaga pendidikan dikenal dengan sebutan Binayapanti. Masuknya agama Islam mulai dikenal lembaga pendidikan model pesantren, antara lain dimulai di Karawang oleh Syeh Qura (abad XVI M). Kemudian kehadiran kolonialisme Belanda di abad yang sama, masyarakat Sunda di kenalkan dengan pendidikan model kolonial. Yang kemudian diteruskan dengan model Republik masa setelah kemerdekaan. Sampai akhirnya 2003 kita mengenal model sisdiknas yang memberi ruang yang lebih lebar untuk berinteraksi dengan dunia internasional. Dari rentetan sejarah perubahan paradigma pendidikan di atas, sadar atau tidak, ada nilai budaya Sunda yang tertransformasikan. Buktinya sampai sekarang jutaan orang masih merasa menjadi suku sunda. Dan masih cukup banyak, pihak yang terusik saat simbol-simbol kesundaan terganggu.

Menurut Bana G Kartasasmita, sangat terbuka peluang masuknya muatan lokal ke dalam proses pembelajaran model pendidikan internasional.  Akan tetapi pertanyaan lanjutan beliau, aspek apa dari budaya lokal kita yang diminati dunia pendidikan luar negeri? 

Budaya lokal (baca, Sunda) menyimpan sekumpulan nilai dan keyakinan dasar yang menurut pemahaman relatip saya, memiliki tingkat relevansi dengan ”moral” masyarakat dunia. Maka langkah bijak yang harus kita lakukan dalam menyikapi kehadiran pendidikan internasional, adalah menemukan nilai-nilai dan keyakinan dasar budaya lokal untuk dijadikan acuan perilaku manusia Sunda di masa datang. Nilai dan keyakinan dasar ini khususnya berkaitan dengan tatanan moral (ahlak, budipekerti, atau pun etika) seperti apakah yang harus hadir saat manusia global tersebut berinteraksi dengan faktor penting lainnya dalam kehidupan. Hidayat Suryalaga (2005) menyebutnya dengan SAD KAMANUSAAN, yang meliputi: moral manusia terhadap TUHAN (MMT), moral manusia terhadap PRIBADI (MMP), moral manusia terhadap MANUSIA lainnya (MMM), moral manusia terhadap ALAM, moral manusia terhadap WAKTU (MMW), moral manusia terhadap pencapaian kesejahteraan LAHIR DAN BATIN (MMLB).

Bila disepakati enam relasi sebagai pijakan awal pengembangan moralitas hasil pendidikan di masa datang. Maka kita telah selangkah lebih maju dalam membawa  budaya lokal utnuk memberikan kontribusi kepada peradaban melalui jalur pendidikan internasional. Walahualam.

 


Responses

  1. Assalamualaikum wr wb

    Alhamdulillah saya bersyukur akhirnya IKOPIN kembali di pimpin oleh Ornag yg berkompeten Insya Allah….

    pak mohon maaf sebelumnya saya Alumni IKOPIN angkatan 2001. senang sekali bisa membaca Blog bpk Di internet…. Saya hendak memberi masukan pak mengenai IKOPIN langsung kepada Bapak, saya mewakili alumni angkatan saya pak Mohon agar Sistem birokrasi untuk mhs yg skripsi agar tidak dipersulit pak khususnya masalah pengaturan jadwal Seminar, Kolokium dan Sidang, kalo bisa Untuk jadwal2 tersebut bisa di tentukan langsung oleh Fakultas masing2 agar tidak terjadi kesalah fahaman yg biasa sering terjadi khususnya pada waktu sebelum bapak menjabat sebagai Rektor IKOPIN sekarang.
    Mohon maaf yg sebesar2nya Pak saya cuma memberikan saran dan masukan agar IKOPIN kembali menjadi kampus yang merakyat sesuai dengan perinsip koperasi pak….

    Wassalamualaikum wr wb

  2. Pak, nuhun pencerahannya, terkai soal ini. Namun
    abdi sering mendapat penegasan istilah “industri pendidikan” dari Prof. Koesbandijah (dari Wodyatama). Beliau waktu itu (thn 1999) untuk tidak malu mengatakan “industri’ pendidikan. Saya tanya sama beliau apa “reasoningnya”. Dia sederhana sekali kalau pendidikan secara serius diindustrikan maka pelayanan akan optimal. Mahasiswa akan diposisikan sebagai konsumen alias raja. Tenaga administrasi dan dosen tidak bisa seenaknya memberikan pelayanan.

    Wagiman
    Batam

    • industri itu mengandung dua makna: 1. bersifar produksi masa, dan 2. mempertimbangkan cost benefit. Apakah anda setuju dengan itu?

  3. “Selamat Atas Terpilihnya Bpk Rully sebagai Rektor IKOPIN”
    Saya alumni IKOPIN jur. mjn. pemasaran lulus th. 2001 ingin menyampaikan bebarapa saran:
    1. Sebaiknya informasi penerimaan mhs baru IKOPIN dilakukan dengan cara kj sama dengan Bank Bukopin, baik hal pendaftaran maupun dlm hal pemasangan spanduk disetiap kantor bank Bukopin se-Indoensia dan juga di kantor dinas Koperasi dan UKM se-Indonesia. Hal tsb bisa berdampak positif pada image masyarakat tentang IKOPIN.
    2. Untuk meringankan operational cost kampus, sebaiknya kampus IKOPIN yg luas dg fasilitas pendukung yg memadai bisa ditawarkan kepada pihak lain sbg tenant misalnya menjadi trainning centre bagi Bank Bukopin.
    3. Untuk menghasilkan lulusan yg berkualitas sebaiknya keahlian bhs inggris, kompuiter dan manajamen koperasi setiap mhs serta kurikulum terus diupdate sesuai dg perkembangan dilapangan menjadi prioritas yang harus diperhatikan.
    4. Terus melakukan kj sama yg intensif dengan stakeholders,terutama dg Dep.Kop R.I,DEKOPIN,Pelaku Usaha UKM dalam negeri dan LN, pemerintah daerah.
    Demikian saran yang ingin saya sampaikan dan semoga IKOPIN menjadi kampus pilihan masyarakat.

    • Terima kasih. Sebuah masukan yang baik. Insya allah itu sekarang sudah dirintis. Alhamdulillah kampus Anda sudah menunjukkan pergerakan. mohon doanya yah. Ok. Sukses untuk anda

  4. salam. minat saya sangat tertarik dengan gagasan yang bapak tulis. yang menjadi pertanyaan saya adalah, upaya apa yang mesti dilakukan agar nilai-nilai dan budaya Indonesia bisa terintegralkan dalan diri siswa di masa global ini? terima kasih. salam

  5. Allahamdulilah…
    Sudah saya baca sebaiknya untuk melihat reskonstruksi pendidikan internasional,,,dapat dilihat langsung di Sekolah kami,, karena kami mengadopsi kurikulum dari creative pre school florida Amerika, sudah di kembangkan dengan muatan lokal yang sangat bernuansa budaya…kami tungu,,Htr Nuhun

    • oh yah boleh saya minta alamat sekokahnya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: