Oleh: rullyindrawan | Desember 2, 2008

BUDAYA KEKUASAAN SUNDA DI TINJAU DARI PERSPEKTIF DEMOKRASI

Oleh: Rully Indrawan [1]

 

Menulis sebuah makalah dengan karakteristik ilmiah untuk judul di atas, jelas bukan pekerjaan mudah bagi saya, yang tidak secara intens belajar tentang budaya. Namun dengan berbagai pertimbangan, sekedar beropini, menulis mengenai hal itu tampaknya tidak ada salahnya. Sebagai elemen pendukung budaya Sunda memang seharusnya merasa terpanggil untuk concern  terhadap dinamika dan problematika budaya tatali karuhun ini, sebagaimana para panitia seminar ini.

Kajian saya tentu saja tidak akan menapak lekat pada budaya dalam perspektif sejarah. Selain kajian bernuansa sejarah pasti telah dibahas oleh penyaji sebelumnya yang jelas lebih berkompeten, sebagaimana dalam jadwal acara, juga tidak ada salahnya melihat topik ini dari perspektif kekinian. Yakni pada saat wacana demokrasi yang berkembang di masyarakat, boleh jadi baik  semangat maupun implementasinya, kurang relavan dengan pengalaman hidup “urang Sunda” di masa lalu.

Ide-ide globalisasi dan demokratisasi yang berkembang saat ini, pada dasarnya tidak akan menghapus eksistensi kelompok-kelompok budaya yang ada di masyarakat dunia, malah boleh jadi akan menjadi pengikat yang kuat untuk itu. Hal itu sebagaimana prediksi John Naisbit tentang kemunculan gejala tribalisme di tengah gejolak globalisme. Sehubungan dengan itu, maka saya anggap diskusi mengenai topik ini sangat penting, khususnya sebagai upaya mencari benang merah serta interelasi antara budaya Sunda dengan fenomena global. Sehingga budaya Sunda tetap mampu memberikan kontribusi berarti bagi kehidupan, khususnya kepada masyarakat pendukung budayanya.

SUNDA DAN KEKUASAAN

Membincangkan kekuasaan dalam perspektip lama budaya Sunda seolah berhadapan dengan tudingan ketabuan. Kekuasaan dipersepsikan sebagai simbol keserakahan dan amibisi, yang senatiasa meniscayakan tumbuhnya konflik, apalagi bila diraih di luar tatanan yang sudah ada. Dinamika budaya selama ini belum memposisikan kekuasaan sebagai resources. Ini mengandung makna, kekuasaan belum  dilihat sebagai bagian penting dalam mengembangkan martabat budaya dan masyarakat Sunda di tengah semangat kebangsaan dan kesejagatan.  Sementara sinyal masa depan mengasumsikan, tidak akan ada eksistensi budaya lokal tanpa resources kekuasaan yang signifikan dari pendukung budayanya.

Realitas budaya masyarakat Sunda dalam meraih kekuasaan terdeskripsikan dalam kecenderungan masyarakat ini dalam berpolitik. Paham budaya yang mengidentikan kekuasan sebagai sumber konflik, dan politik yang ditabukan, telah membuahkan realitas budaya berpolitik imperior pada etnis dengan populasi kedua terbesar di Indonesia ini.

Saat PNI berjaya di masa orde lama, ataupun Golkar di masa orde baru, Jawa Barat selalu menjadi penyumbang suara sangat signifikan bagi kedua kekuatan politik tersebut. Demikian pula fakta PKI yang tidak pernah berhasil menguasai Indonesia, karena selalu tidak pernah berhasil menguasai masyarakat Jabar yang religius. Namun hasilnya apa?, sangat tidak banyak elit-elit politik nasional yang lahir benar-benar dari kesejarahan budaya Sunda. Fenomena terisinya sebagian besar kursi di DPRD Jabar oleh kelompok mukimin, memperkuat dugaan bahwa masyarakat Sunda “tidak pandai berpolitik” namun tetap sebagai “pendukung politik potensial”. Jelas gambaran itu tidak menggambarkan penguasaan resources yang elegant ditengah kancah pergumulan kehidupan yang bernuansa kompetisi antar kelompok dalam masyarakat.

Hampir sulit saat ini menemukan figur nasional Sunda yang memiliki latar belakang kuat dengan perjuangan ki-Sunda.  Wajar bila mereka kemudian tidak memiliki hutang sejarah dengan perkembangan budaya Sunda. Kalaupun ada, hanya elit-elit politik untuk skala lokal, yang nyaring bersuara kepentingan “Budaya Sunda” namun kecil akseptabilitas pada permasalahan akar rumput. Isyu-isyu kedaerahan sering dijadikan agenda politik, namun tidak pada implementasi kebijakan. Dalam bahasa sehari-hari mahasiswa,  fenomena ini  disebut “Lebih berciri retorika ketimbang realita”.

Hampir sulit dipahami, bagaimana maraknya kehidupan pendidikan di Jabar, lembaga tinggi sipil (PTN maupun PTS) dan militer (Sesko-sesko) berwibawa ada disini. Alhasil anggaran pendidikan yang bergulir disini jelas berjumlah signifikan, namun hasilnya apa khususnya bagi ki-Sunda?  Tamatan SD yang melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi masih di bawah 65%, tingkat pendidikan masyarakat Sunda pituin untuk pendidikan tinggi masih lebih rendah dari para pendatang, dlsb.

Sampai saat ini jumlah investasi (PMA dan PMDN) di Jabar masih paling besar di banding daerah lain di Indonesia. Namun faktanya jumlah TKI (unskill)  asal Jabar masih tetap dominan, backwash effect terhadap tabungan masyarakat Jabar juga masih tetap berjalan. Ironisnya tingkat pendapatan masyarakat, serta angka partisipasi tenaga kerja, masyarakat Sunda pituin  di Jabar juga lebih buruk keadaanya di banding masyarakat pendatang.

Ujung-ujungnya angka Indek Pembangunan Manusia Jabar berada di posisi yang tidak berwibawa, dibanding daerah lain di Indonesia. Bila patokan di atas digunakan, dimana tingkat kehidupan masyarakat Sunda pituin, lebih rendah dibanding masyarakat pendatang. Maka IPM urang sunda pituin lebih parah lagi keadaanya.

Data-data di atas, memberi gambaran yang jelas mengenai lemahnya posisi bargaining power masyarakat Sunda dalam budaya kekuasaan. Serta terjadinya paradoksal antara budaya kekuasaan Sunda dengan komitmen kebijakan pada tataran implementasi. Dengan demikian bisa kita simpulkan budaya kekuasaan Sunda saat ini adalah pendulum kekuasaan  vertikal.

PERUBAHAN BUDAYA KEKUASAAN: PERSPEKTIF DEMOKRASI

Komitmen reformasi serta semangat Indonesia baru, adalah momen yang tepat untuk mengkoreksi persepsi masyarakat Sunda dalam mengapresiasi budaya kekuasaan. Budaya kekuasaan yang bernuansa ramah, toleran, dan insklusive; seyogyanya segera dipertimbangkan kembali. Pandangan hidup orang Sunda terhadap kekuasaan, adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan pandangan hidup orang Sunda dalam mengejar lahir batin (Yus Rusyana,dkk.,1989). Secara umum, pandangan hidup orang Sunda dalam mengejar lahir batin telah banyak bergeser dari pola lama. Hal ini banyak disebabkan oleh pengaruh dinamika kebudayaan, baik dari dalam maupun dari luar. Maka dalam konteks budaya kekuasaan, ruang perubahan paradigma politik masyarakat Sunda harus pula dibuka selebar-lebarnya.

Hampir sulit membayangkan hadirnya sebuah eksistensi tanpa keseriusan yang berarti dalam mengelola potensi politik yang dimiliki. Dalam konteks kekinian masyarakat Sunda, prasyarat untuk itu adalah mengubur stigma politik dalam wacana budaya masyarakat. Kemudian perlu dilakukan pula upaya memobilisasi partisipasi kelompok-kelompok kepentingan dalam satu irama kerja yang harmonis. Jelas membutuhkan waktu untuk proses, namun  harus segera di mulai.

Secara generik, budaya Sunda memiliki karakteristik egalitarian sebelum terganggu dengan masuknya pengaruh budaya “mataraman” ke dalam struktur sub-kultur Priangan. Ini potensi yang besar untuk terjadinya mobiliasi horizontal, maupun menanamkan nilai-nilai demokratisasi.   Fenomena ini di satu sisi, memberi angin segar untuk munculnya potensi partisipasi, namun di sisi lain akan menggugat performance dan pola kekuasaan yang ada saat ini.

Dalam perspektip demokrasi, kekuasaan harus menjadi anak kandung dari partisipasi  sosial, sekaligus harus menapakan diri pada kecenderungan masyarakatnya. Dengan demikian, kekuasan harus dilahirkan dan melahirkan,  dinamika budaya masyarakatnya. Dalam arti yang lain budaya kekuasaan Sunda dalam prespektif demokrasi, harus menjadi pendulum vertikal sekaligus horiozontal.

Cag, wasslamualaikum Wr. Wb


[1] Pengurus Besar Paguyuban Pasundan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: