Oleh: rullyindrawan | September 25, 2008

Ramadan dan Ekonomi Rakyat

 Oleh Prof. Dr. H. Rully Indrawan

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. al-A`raf [7]:96)

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa sikap terhadap syariah itu amat menentukan nasib manusia (rakyat). Apabila syariah itu diterapkan dan ditaati, bukan hanya mendatangkan pahala bagi pelakunya, namun juga berkah. Sebaliknya, ketika syariah diingkari dan ditolak untuk diterapkan, akan mengundang murka Allah SWT.

 

Mengaca dari hal itu, wajar bila beberapa kalangan mengaitkan kondisi ekonomi yang kita hadapi saat ini, dengan praktik usaha menegakkan syariah. Di negeri mayoritas Muslim ini, syariah tidak dijadikan sebagai sistem untuk mengatur kehidupan.

Sistem inilah yang membenarkan adanya penguasaan faktor produksi oleh segelintir orang. Sistem ini pula yang memayungi kehidupan masyarakat semakin pragmatik.

Kehidupan berjalan tanpa aturan yang jelas, karena pemerintah yang senyata bertugas sebagai regulator, ternyata dalam beberapa kesempatan bermain sebagaimana pelaku usaha yang berpikir dan bertindak dalam skala mikro.

Sehingga yang terjadi, sejak lama masyarakat diajak berpikir praktis, kalau hasil pertanian kita tidak bagus dan mahal biayanya, maka solusinya datangkan saja bahan pangan dari luar. Dengan alasan itu pula, pemerintah menyerahkan pengelolaan tambang-tambang migas, emas, perak, batu bara dan lain-lain yang depositnya melimpah terhadap swasta. Sebagai akibatnya, berbagai sumber daya alam yang oleh syariah ditetapkan sebagai milik publik (al-milkiyyah al-`ammah) itu kini dikuasai korporasi-korporasi asing.

Menjelang bulan Ramadan, rakyat dikejutkan oleh keputusan Pertamina menaikkan harga gas LPG kemasan 12 kilogram. Tidak kuat membeli gas LPG, kembali ke minyak tanah yang tidak mudah diperoleh, maka pemandangan tahun 70-an kembali terjadi. Orang mengantre beras dan minyak tanah.

Rakyat yang seyogianya khidmat bersyukur dengan datangnya bulan Ramadan 1429 H, menjadi kelompok yang senantiasa berkeluh kesah dan bersumpah serapah. Subhanallah.

Para ekonom sering mengungkapkan pertumbuhan ekonomi senantiasa di atas 6%, tingkat inflasi dan tingkat suku bunga luar biasa. Namun, jumlah rakyat miskin di Indonesia masih sangat banyak. Angka pengangguran terbuka di Indonesia terdata 10,28% dan setengah menganggur 29,1%. Ini artinya, sekitar 39,38% angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan yang aman. Bila angkatan kerja diperkirakan berjumlah sekitar 100 juta, berarti hampir 40 juta menganggur. Jadi, apa yang salah dengan pertumbuhan ekonomi kita?

Berkaitan dengan hal terakhir, maka patut kita pertimbangkan beberapa hal, yakni pertama, menolak cara-cara sekuler-kapitalistik termasuk campur tangan lembaga dan negara asing dalam pengaturan ekonomi Indonesia.

Sudah saatnya, kita menerapkan sistem ekonomi yang yang berbasis kerakyatan dan dikelola secara mandiri oleh bangsa kita sendiri.

Kedua, meninggalkan cara-cara penyelesaian masalah ekonomi dengan cara jalan pintas dan pragmatis. Bila pertanian kita belum efisien bukan impor solusinya, akan tetapi, buat riset yang baik dan terapkan hasil temuannya dengan metode dan cara yang baik.

Ketiga, beri tempat yang layak untuk tumbuhnya kekuatan ekonomi masyarakat . Karena tumbuhnya ekonomi rakyat akan menyebabkan berjalannya katup pengaman untuk pengangguran di tingkatan masyarakat itu sendiri.

Terakhir, kami mengingatkan firman Allah SWT dalam Q.S. an-Nuur ayat 55, yang artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Dan doa Nabi saw., “Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia” (H.R. Muslim). Wallahu a`lam bi ash-shawab.***

Penulis, Rektor Ikopin.


Responses

  1. Subhanallah, tulisan yang memberikan inspirasi dan semangat, semoga Allah menolong kita untuk berbuat sesuai ketentuan-Nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: