Oleh: rullyindrawan | September 23, 2008

RENUNGAN HARI KEMERDEKAAN:

Oleh : RIO F.WILANTARA

Mahasiswa Fakultas Hukum UNPAS angkatan 2003

Peran mahasiswa, dan pemuda pada umumnya, sulit tertepiskan dalam perjalanan sejarah bangsa kita. Jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kelompok  mahasiswa mempelopori lahirnya Budi Utomo yang kemudian dijadikan momentum kebangkitan nasional. Selang beberapa dekade kemudian, gelora Sumpah Pemuda, juga tidak lepas dari peran serta kelompok muda intelektual ini. Perjalanan sejarah pahlawan muda kampus terus menghiasi perjalanan dinamis bangsa kita, kalau tidak dikatakan menentukan arah perjalanan Negara Kesatuan Repulik Indonesia.

Mengapa kelompok mahasiswa begitu dominan dalam rentetan perjalanan bangsa, khususnya fase perjuangan kemerdekaan. Tak lain karena kepekaan sosial yang dipandu oleh kecerdasan intelektualitasnya, menghasilkan apa yang kemudian orang menyebutnya dengan ”idealisme”. Kemerdekaan adalah sebuah idealisme primer bagi masyarakat beradab.

Selain itu, kemerdekaan adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan YME kepada individu, dan juga kelompok masyarakat, yang harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga.

Untuk meraih kemerdekaan, buku-buku sejarah memberi pelajaran, banyak yang harus dikorbankan dan diperjuangkan. Harta, darah, malahan nyawa rela diberikan. Bukan semata itu, perjuangan kemerdekaan meniscayakan dua kemungkinan bagi para pelakunya, yang akan melekat dalam diri dan keluarganya di kemudian hari. Pertama, bila perjuangan berhasil akan melekat sebutan “pahlawan” dengan berbagai puja-puji dan sanjungan. Pencitraan serupa itu berlaku pula untuk anak dan cucunya entah sampai kapan. Seolah sang “pahlawan” meninggalkan warisan yang tak akan habis dalam tujuh turunan sekalipun. Kedua, bila perjuangannya tidak berhasil yang akan kuat melekat adalah sebutan “pemberontak” yang dicitrakan amat sangat jahat, ambisius, dan serakah. Lagi-lagi citranya bisa melekat sepanjang hayat, dan tidak jarang anak-cucunya yang tidak tahu apa-apa ikut dinistakan dan dipinggirkan melalui berbagai terminologi, antara lain “tidak bersih lingkungan” atau “tidak bersih diri”, sebagaimana kita kenal saat jaman orba dulu. 

Pada hakekatnya yang diperjuangkan oleh sang “pahlawan” maupun bung “pemberontak” umumnya memiliki titik berangkat yang sama, yakni keyakinan tentang kebenaran idealisme yang diusungnya. Dalam pertarungan pemikiran, masing-masing idealisme mencari tempat yang sesuai dalam komunitasnya. Dalam konteks itu, kerap mekanisme sosialisasi sangat menentukan seberapa besar masyarakat menerima  idealisme itu. Walaupun banyak pihak meragukan keberlangsungan idealisme di tengah masyarakat hedonis saat ini, namun tetap relavan untuk dikembangkan dalam pengalaman intelektualitas mahasiswa.

Idealisme yang merapuh

Munculnya keraguan, yang kemudian berkembang menjadi sikap skeptis dan apriori; terhadap idealisme kejuangan mahasiswa tidak terlepas dari rumors yang berkembang di lingkungan masyarakat. Isu demonstrasi bayaran, menunjuk gerakan mahasiswa telah dinodai dengan kepentingan imbalan rupiah. Keraguan lunturnya idealisme di kalangan mahasiswa juga sering dikaitkan gaya hidup sebagian mahasiswa yang erat dengan kehidupan dugem (dunia gemerlap).

Walaupun pada setiap generasi, deviasi perilaku seperti itu sering hadir, namun keraguan itu semakin kuat manakala dikaitkan dengan kenyataan, bahwa pada umumnya masyarakat sudah menjauh dari etika dan idealisme. Bukan rahasia umum lagi bahwa pragmatisme telah menyisihkan idealisme dan etika. Dalam kata lain, telah terjadi penyeragaman orientasi hidup masyarakat dunia ke arah ”ideologi kepentingan”.   

Berkembangnya pragmatisme di tengah masyarakat sangat mudah dikenali saat ini. Simbol-simbol kesuksesan seseorang kerap dikaitkan dengan penguasaan materi dan penguasaan source ekonomi berperan siginifikan dalam menempatkan strata sosial seseorang. Ini buah dari bergulirnya kapitalisme global, hampir sulit dihalangi. Ekspansi itu terus merambat ke seluruh sektor kehidupan, termasuk di dalamnya pendidikan. Bentuk ekstrim dari ekspansi kapitalisme global dalam bidang pendidikan adalah membawa lembaga pendidikan menjadi mesin pencetak tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat industri. Merambatnya kapitalisme global ke dunia pendidikan berpotensi mematikan semangat dan idealisme mahasiswa. Dan bila itu tidak disadari secepatnya, maka bukan hal yang tidak mungkin bangsa ini akan semakin terperosok jauh, karena seluruh lapisan masyarakat melihat segala sesuatunya dari kepentingan sendiri dan sesaat. 

Apa yang harus dilakukan mahasiswa?

Sebagai kekuatan moral (moral force) seyogyanya mahasiswa tidak boleh larut terlalu jauh dengan keadaan ini. Mahasiswa sebagai bagian integral dari masyarakat tidak bisa tidak, akan terpengaruh oleh kecenderungan pola hidup masyarakat pada umumnya. Namun, akan lebih bermakna bila di tengah masyarakat yang ”sakit” mahasiswa berada di barisan terdepan untuk melakukan perlawanan budaya. Sejarah yang panjang bangsa ini, sebagaimana diungkap di awal tulisan ini, telah dihiasi oleh peran mahasiswa yang trampil dan berani melawan arus.

Lawan yang dihadapi saat ini bukan imperalisme dan kolonialisme masa lalu, bukan pula tirani kekuasaan absolut sebagaimana masa orde lama maupun orde baru. Akan tetapi lawan saat ini lebih abstrak dan kadang absurd, yakni budaya. Perlawanan terhadap penyakit budaya harus dilawan dengan kekuatan budaya pula. Mahasiswa memiliki keunggulan potensial untuk melakukan perubahan budaya di masyarakat. Selain karena tingkat perkembangan psikologis yang memungkinkan idealisme tumbuh secara baik. Juga fakta lain yang tertepiskan, adalah mahasiswa lah yang akan menjadi manusia yang akan datang. Akan tetapi tentu saja, sekali lagi, ini membutuhkan keberanian untuk memulai dan tekad yang kuat. Sebagaimana para pejuang kita yang rela mengorbankan apa saja untuk cita-cita dan idealisme yang diyakini dapat membawa kehidupan bangsa kita yang lebih baik di kemudian hari. Pengingkaran dari nilai-nilai idealisme terbukti hanya menghasilkan krisis berkepanjangan yang sangat merugikan bangsa kita, entah sampai kapan. Wallahualam.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: