Oleh: rullyindrawan | September 22, 2008

Koperasi Sauyunan

Sauyunan, menurut sastrawan Sunda Wahyu Wibiksana terdiri atas dua suku kata, yakni sa yang mengandung arti satu (hiji) dan uyun yang mengandung arti langkah (lengkah). Sauyunan, dari dua kata tersebut menurut beliau berarti bersatu saat melangkah (ngahiji waktu melangkah). Kata lain yang mengandung padanan kata dengan sauyunan adalah sabilulungan atau saaleutan. Dengan demikian, sauyunan mengandung makna kebersamaan yang dipenuhi oleh suasana yang menyenangkan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat, maknanya identik dengan at-taawun (tolong menolong). Dari makna tersebut maka sangat jelas betapa luhurnya nilai sauyunan dalam budaya dan masyarakat Jabar. Dan orang-orang yang terdorong untuk beritikad untuk sauyunan harus diberi apresiasi yang luar biasa. Kebersamaan yang luhur ini kian langka di tengah masyarakat yang semakin cenderung individualistis.

Budaya sauyunan sebenarnya melekat dalam idielogi koperasi. Maka Koperasi Sauyunan yang digagas oleh Gubernur Jabar, H. Dani Setiawan, mengandung niatan yang luhur untuk turut serta dalam membangun ekonomi rakyat melalui lembaga dan nama yang memiliki filosofis sangat luhur pula. Dengan demikian dari sisi nama, yang merupakan simbolisasi komitmen moral para inisiator, sudah sangat clear dan menjanjikan. 

Koperasi yang mengedepankan visi memperjuangkan ketahanan ekonomi masyarakat Jabar dan berperan sebagai pelaku utama dalam mengembangkan ekonomi dan sosial masyarakat Jabar yang silih asah, silih asih, dan silih asuh.

Memiliki misi untuk mewujudkan ekonomi dan sosial budaya masyarakat Jabar yang tangguh dengan mengembangkan kemitraan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dan berbudaya.

Lembaga ekonomi berbentuk koperasi sudah menyatu dengan budaya masyarakat Jabar. Demikian pula hampir mustahil sejarah pergerakan koperasi melupakan kontribusi Jabar. Saat ini Jabar masih menyandang provinsi dengan jumlah unit koperasi terbanyak secara nasional, sehingga wajar bila Jabar menjadi provinsi koperasi. Namun Koperasi Sauyunan hadir bukan semata untuk melegitimasi eksistensi koperasi Jabar saja, namun senyatanya untuk menjawab tantangan kekinian. Koperasi ini tepat hadir di tengah masyarakat membutuhkan geliat sektor riil, dimana prasyarat pentingnya dibutuhkan sokongan lembaga keuangan yang mudah, murah, dan bersahabat.

 

Ekonomi Jabar

Bukan rahasia lagi bila saat ini telah terjadi paradoks ekonomi, baik dalam skope nasional maupun regional Jabar, dimana pertumbuhan ekonomi yang relatip baik serta membaiknya berbagai indikator makro namun ternyata meninggalkan masalah serius di tingkatan praksis masyarakat, yakni tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Jabar dengan didorong oleh kondisi geografis sebagai ”penyangga ibu kota” terkena imbas yang paling paling parah dalam musibah peradaban ini.  Sebanyak 6 persen dari jumlah penduduk Jabar adalah pendatang. Ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan akan memengaruhi daya beli dan menambah angka kemiskinan.

Tercatat sebagai propinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi, dan rangking kedua dalam angka kemiskinan; jelas bukan prestasi yang diharapkan dan membanggakan bagi pengemban visi sebagai propinsi termaju di Indonesia. Keadaan ini jelas harus dilawan secara sistimatis dan mengedepankan prioritas sektor yang paling menentukan.    

Bila dicermati alasan munculnya kemiskinan dan pengangguran, selain masalah migrasi, juga adalah karena belum berjalannya sektor riil.  Pembangunan sektor riil merupakan prasyarat yang harus dilakukan untuk menciptakan keadaan perekonomian lebih baik. Mengingat pembangunan sektor riil bukan sekedar meningkatnya kegiatan produksi barang dan jasa, akan tetapi sekaligus membuka kesempatan kerja serta berpotensi menciptakan devisa dari kegiatan ekspor, sekaligus memperbaiki posisi neraca pembayaran. Sektor riil saat ini boleh dikatakan stagnan, tidak mengalami kemunduran juga tidak mengalami kemajuan.  Stagnasinya sektor riil ditandai oleh melambatnya pertumbuhan kredit yang sangat signifikan.  

Sejalan dengan semangat prinsip desentralisasi dan otonomi  daerah maka pembangunan ekonomi regional menjadi tantangan bagi kita semua. Anatomi  pembangunan ekonomi regional yang berbasis pada unggulan dan potensi lokal  harus dikembangkan secara terintegrasi dalam mengatasi mandegnya sektor riil ini. Format seperti inilah yang dikembangkan di China, Thailand serta sejumlah negara lain.  Guna meningkatkan daya saing ekonomi lokal, usaha kecil dan menengah serta koperasi harus menjadi lokomotifnya.  Begitu pula usaha mikro di sektor informal, serta kelompok usaha bersama masyarakat di tingkat desa, harus diberdayakan agar dapat berperan produktif dalam kegiatan ekonomi lokal dan pada ujungnya ekonomi nasional. Thailand memanfaatkan sektor informal kaki lima yang dibina secara baik untuk menjadi penunjang industri pariwisatanya. Di Bangladesh, usaha mikro terkait dengan kelompok perempuan yang dikembangkan Grameen Bank telah berperan besar dalam mengatasi persoalan kemiskinan. Lembaga-lembaga usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi (UMKMK) itulah yang perlu dikembangkan untuk memperluas basis ekonomi kita. Termasuk lembaga keuangan mikro di luar sistem perbankan yang dewasa ini belum ada pengaturannya.

Seluruh upaya pembangunan ekonomi mikro—lokal tersebut perlu ditopang sinergi semua pihak sekaligus. Berbagai aspek seperti legislasi dan restrukturisasi lembaga pemerintah, kebijakan fiskal dan perbankan, pengembangan SDM, pembinaan UMKM,  pengembangan infrastruktur, hingga akses informasi dan pasar perlu dipadukan agar melahirkan gerak yang serempak. Hanya dengan jalan demikian tantangan untuk mencari model pembangunan alternatif dapat kita jawab.

Kalau kita mau jujur, koperasi memiliki potensi luar biasa dalam menggerakan ekonomi masyarakat. Pengalaman masa krisis ekonomi sepuluh tahun yang lalu, koperasi dan ekonomi informal lainnya mampu berperan menjadi katup pengaman di tengah hancur leburnya sektor formal, faktanya   UKMK mampu memberi kontribusi 99,6 persen  dalam penyerapan tenaga kerja. Dengan demikian kehadiran koperasi Sauyunan bukan semata urusan romantisme sejarah dan mencari popularitas sesaat saja. Tapi sebuah keniscayaan dengan tingkat keyakinan yang tinggi. Memang untuk menciptakan keyakinan kolektip dibutuhkan berbagai asumsi. Koperasi dilihat dari substansinya adalah suatu sistem sosial-ekonomi. Agar tetap survive, dalam tataran operasional  koperasi dituntut untuk memanfaatkan sumberdaya  yang  tersedia untuk mencapai tingkat operasi yang efektif. Untuk menjalankan fungsi tersebut, maka asumsinya di butuhkan manajemen dan organisasi yang baik.

 

Pilgub Jabar

Pembangunan ekonomi pro-rakyat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen yang utuh dan konsisten. Di tengah maraknya persiapan pilgub, seyogyanya kita jeli melihat figur-figur yang muncul. Tanpa mengecilkan figur yang lain, dan boleh jadi pandangan ini sangat subjektip, kedua nama yang mengkerucut di partai Golkar memiliki potensi komitmen untuk meneruskan perjuangan membangun sistem ekonomi yang berbasis kerakyatan ini. Dengan tidak mengkesampingkan peran wagub incumbent; keduanya sangat kapabel dan memiliki integritas dibidang ini.

Polarisasi kekuatan sempat mengkhawatirkan, sehingga Ketua Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan dan sekaligus ketua DPD-RI melontarkan figur alternatip. Wacana yang dikembangkan Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita, jelas bukan tanpa alasan. Selain keduanya sama-sama anggota dewan pangaping  Paguyuban Pasundan, juga posisi diametral seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi rakyat Jabar di tengah perjuangan penguatan daerah di kancah nasional. Terbukti wacana itu telah memberikan kontribusi terhadap cairnya suasana. Dan sekaligus mengundang berbagai elemen masyarakat untuk mengusulkan figur-figur alternatif yang telah terbukti ketokohannya dalam skala nasional maupun regional.

Namun siapapun akhirnya figur alternatip itu, atau siapapun yang menjadi gubernur Jabar kelak, kepentingan rakyat yang paling mendesak yakni lapangan kerja dan membaiknya ekonomi, mutlak menjadi prioritas. Yang kita hadapi saat ini masalah serius dalam peradaban manusia,  yang tidak bisa dipecahkan dengan hanya otot dan ngotot. Atau malahan jangan sekali-kali mendegradasikan menjadi masalah sepele, seperti masalah disintegrasi sub-kultur, yang justru menodai luhurnya filosofis sauyunanWassalam.         

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: