Oleh: rullyindrawan | September 22, 2008

Kepemimpinan

Rully Indrawan

 

 

S

eseorang berdiri di bibir pantai melihat jauh ke depan, selepas mata memandang yang dilihatnya hanya laut biru. Pada saat-saat tertentu tapi pasti, debur ombak pecah di muka bibir pantai. Ia tahu jauh nun disana terdapat sebuah daratan yang penuh keindahan dan kaya dengan potensi alamnya. Sebagai seorang yang memiliki pandangan jauh ke depan, ia amat besar keinginannya untuk sampai ke pulau harapan itu. Yang ia lakukan kemudian adalah berusaha untuk memperoleh perahu, membuat atau mencari tumpangan perahu, kalau proses menuju ke tujuan itu ingin lebih cepat maka ia harus memiliki perahu dan kendali kapal sepenuhnya ada pada dirinya.

Untuk perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, ia harus mempersiapkan perahunya yang kuat, jika perlu melengkapi kapalnya dengan alat navigasi yang canggih. Demikian pula ia harus melengkapi kapalnya dengan anak buah kapal yang cekatan dan memiliki komitmen yang sama dengannya. Sepanjang perjalanan itu ia harus berhadapan dengan kenyataan, terpaan angin yang kadang-kadang berubah yang berdampak terhadap pada besarnya dan karakteristik ombak yang datang menerpa perahunya. Oleh sebab itu, ia harus cekatan menugaskan anak buah kapal untuk menurunkan dan menaikan layar perahunya, serta menugaskan anak buah yang lainnya untuk membuang air yang masuk ke dalam perahu. Sebagai nakhoda yang baik, ia pun harus tahu kapan mesin kapalnya harus dikontrol sehingga tetap terjaganya sampai perahunya merapat di pulau harapan, membawa penumpang kapal dengan selamat dan sama-sama menikmati kelebihan pulau harapan itu.

Pada dasarnya ia, adalah seorang pemimpin. Dan perahu yang harus ia siapkan dan dijaga selama perjalanan, merupakan analog dari sebuah organisasi. Produk akhir seorang pemimpin adalah kondisi dimana semua penumpang perahu merasa senang saat tiba di pulau harapan. Untuk itu, ia harus merumuskan lebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, serta menjelaskan strategi yang akan diambil, termasuk memberi komando kepada anak buah kapal itu untuk membuang sauh atupun memasang layar; apa yang ia kerjakan itu pada dasarnya, adalah manajemen.

Dengan analogi itu, saya ingin memberi gambaran tentang, (a) organisasi, manajemen, dan kepemimpinan merupakan paket dalam system pencapaian tujuan, (b) pemimpin yang buruk –seberapa canggihnya pun kapal- memiliki resiko yang besar terhadap goncangan ombak, kapal akan terombang-ambing di tengah lautan akibat nakhodanya tidak memiliki komitmen dan kapasitas yang cukup untuk mengendalikan kapal.

 

K

epemimpinan yang baik akan sangat tergantung pada pemimpin yang baik pula. Artinya sistem kepemimpinan akan lekat dengan kualitas orang yang memimpin. Pemimpin berkarakter Abu Bakar Sidiq senantiasa dalam masa kepemimpinannya menampilkan kinerja yang baik, bertanggung jawab, professional, dan menjadi panutan; tipe seperti ini akan banyak dikenang orang karena kebaikannya. Pemimpin berkarakter Abu Jahal, senantiasa dalam hidupnya tidak lepas dari kemungkaran, jahil, dan berlaku tidak adil; tipe seperti ini senantiasa dikenang orang karena keburukannya. Sedang pemimpin berkarakter Abu Nawas, senantiasa dalam hidupnya penuh senda gurau, canda, dan tawa; tipe seperti ini anda dapat menebak akan seperti apa organisasi yang dipimpinnya.

Paparan di atas dimaksudkan untuk memberi penekan pada pemahaman, bahwa kepemimpinan adalah produk dari sebuah proses memilih. Tidak ada sedikitpun pretensi dari saya untuk mengulang kembali syarat kepemimpinan yang telah kita asumsikan bersama, yakni harus memiliki karakter sidiq, tabligh, amanah, fatonah, dan lain sebagainya. Akan tetapi sejalan dengan itu, saya  mempunyai tesa tentang hirarki kepemimpinan yang diidamkan, yakni seperti gambar  1.

Pemimpin pada tingkatan awal minimal bisa diterima, terlepas pada prosesnya khalayak dilibatkan atau tidak, terlepas pula saat proses pemilihan khalayak merasa memilih atau tidak; faktanya khalayak suka atau tidak suka menerima seseorang sebagai pemimpin karena “tekanan” legalitas. Contoh pada tingkatan ini, adalah pada kepemimpinan sebelum adanya pemilihan langsung, atau pada pimpinan unit kerja yang ditetapkan melalui surat keputusan pihak otoritas.  

 Pada tingkatan kedua, apakah pemimpin itu bisa dipercaya atau tidak. Dalam arti diterimanya pemimpin oleh kelompok khalayak harus dimanfaatkan oleh pemimpin untuk membangun kepercayaan dari khalayak anggota kelompok. Kepercayaan bisa timbul karena komitmen dan ide pemimpin yang baik, bisa juga percaya pada ketangguhan pimpinan menghadapi goncangan pihak yang kontra.  Membangun kepercayaan sangat tergantung seberapa mampu si pemimpin meyakinkan khalayak melalui tampilan, (a) moralitas, (b) kecerdasan, (c) phisik. Tampilan moralitas merupakan ukuran dasar untuk menumbuhkan kepercayaan. Bagi khalayak yang memiliki latar belakang budaya timur yang religius, tampilan ini sangat penting dan menentukan untuk tumbuhnya kepercayaan pada anggota kelompok. Tampilan kecerdasan, memiliki  peran penting untuk tumbuhnya kepercayaan khususnya pada kelompok khalayak yang memiliki karakteristik terdidik. Sedang tampilan phisik dapat menciptakan kepercayaan khalayak, khususnya pada ketangguhan, daya tahan, dan kesehatan. Contoh kepemimpinan tingkat ini, misalnya muncul saat bangsa Indonesia mempercayai Soeharto sebagai Presiden RI selama 32 tahun. Rakyat yakin setiap upaya menggoyah tidak akan berhasil, maka rakyat apatis.

Pada tingkatan ketiga, bila pemimpin telah dipercaya sebaiknya meningkatkan diri menjadi pihak yang diikuti. Walaupun pada masyarakat demokratis kebenaran tidak selamanya berasal dari pimpinan, akan tetapi pemimpin mutlak memberi inspirasi dan paluang untuk tumbuhnya suasana kreatip.  Pemimpin yang diikuti oleh khalayak yang dipimpinnya, adalah mereka yang mampu memberi kemaslahatan baik bagi organisasi, maupun anggota kelompok secara parsial. Oleh sebab itu, pemimpin mutlak memahami kebutuhan khalayak yang dipimpinnya. Dan dengan kesungguhan hati serta kesediaan untuk bekerja keras berusaha memenuhi kebutuhan kolektip khalayak, maupun kebutuhan yang lebih parsial lagi. Walaupun untuk diikuti oleh khlayaknya, seorang pemimpin bisa melakukan dengan pemaksaan, kekerasan, atau rekayasa infromasi. Itulah pentingnya komunikasi sosial pemimpin dengan khalayaknya, pemimpin yang mampu berkomunikasi baik dengan khalayaknya, adalah mereka yang berpotensi untuk mengetahui kebutuhan organisasi dan khalayaknya. Contoh pemimpin pada tingkatan ini, misal pada Musolini, Nepoleon, Stalin, ataupun Presiden AS Bush.    

Tingkatan keempat, pemimpin yang dicintai oleh khalayaknya. Pemimpin pada tingkatan ini, adalah mereka yang berhasil memunculkan keperdulian dan  emphaty  yang pada akhirnya menimbulkan rasa tentram dan harapan yang lebih baik bagi khalayak. Implikasi perilaku, dari mulai memberi senyum, menepuk pundak, menengok saat musibah, sehingga  inner beutiful  muncul dengan keikhlasan tanpa kepura-puraan. Keikhlasan berbuat terbaik bagi siapapun secara adil, akan diapresiasi oleh khalayak anggota dengan rasa cinta dengan kesedian untuk berbakti kepada pemimpin secara ikhlas pula. Keberadaan pimpinan menjadi inspirasi, ketiadaanya menjadi munculnya rasa kehilangan bagi khalayak. Contoh kepemimpinan tingkatan ini, yakni kecintaan masyarakat Jepang kepada kaisarnya.

 Tingkatan kelima, adalah tingkatan dimana pemimpin ada atau tidak, hidup atau sudah tiada segala ajaran dan programnya tetap dijalankan oleh khalayaknya.  Karena khalayak tidak terpaku oleh kehadiran phisik pemimpin. Mereka melaksanakan pesan dan petunjuk pimpinan dengan penuh kesadaran, bahwa itu baik bagi dirinya, baik untuk lingkungannya, dan baik untuk kelompoknya. Pemimpin seperti ini sudah mencapai tingkat tertinggi, karena yang ia tekankan bukan semata pada pesan pisik akan tetapi sudah jauh menyentuh pandangan hidup serta kemaslahatan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Khalayak mau mengorbankan apa saja untuk keagungan pemimpin beserta ajarannya. Contohnya, adalah pada kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.   

 

P

ada akhirnya unggul tidaknya pemimpin dapat dilihat dari, seberapa tepat ia mampu hadir dalam kelompoknya, dengan memberi kemaslahatan bersama. Pemimpin yang sesungguhnya dihormati adalah pemimpin yang dihormati dan dihargai, saat ia masih ada dalam lingkungannya atau pun sudah tidak ada dalam tampuk formal kepemimpinannya.  

 

Gambar : Hirarki Kepemimpian

 

 

 

 

Dicintai

Diimami

 

 

 

                

Diterima

 

Dipercaya

 

Diikuti


Responses

  1. Tulisannya ini menarik untuk ditafakuri… Mencoba mengungkap ke arah spiritual leadership…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: