Oleh: rullyindrawan | Desember 2, 2008

ISI, FORMAT, DAN RAMBU AKREDITASI JURNAL

Oleh :

Rully Indrawan[i]

 

 

Pendahuluan

Penempatan posisi penting karya ilmiah yang dipublikasikan dalam promosi jabatan fungsional, sebagaimana di atur dalam Keputusan Menko Wasbang No. 38/KEP/K.WASBANG/8/1999 tanggal 24 Agustus 1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kredit, tepat sekali dan strategis bagi keberlangsungan pengembangan karier dosen. Apresiasi terhadap publikasi ilmiah dari para dosen, baik sebagai konsumen maupun produsen ilmu, dirasakan memang masih lemah. Hal ini sangat ironis dengan esensi tugas dan fungsi dosen sebagai anggota masyarakat ilmiah yang memiliki garda terdepan dalam pengembangan ilmu.

Banyak keluhan dari para pengelola jurnal ilmiah, yang sudah ada, sehubungan dengan langkanya tulisan atau karya ilmiah yang layak dimuat. Kenyataan tersebut  selain secara parsial menggugat keberlangsungan jurnal tersebut, juga secara  substansial berpotensi untuk terputusnya komunikasi ilmiah yang seharusnya terjalin dalam suatu komunitas bidang keilmuan. Oleh sebab itu, kebijakan baru dalam perhitungan angka kredit untuk jabatan fungsional dosen diharapkan dapat mengatasi masalah krusial itu secara bertahap.

Walaupun keputusan tersebut efektipnya mulai berlaku 1 januari 2000, namun saat ini mulai terasa gaungnya. Banyak jurnal berakreditasi sudah mulai kebanjiran naskah artikel sehingga untuk dapat dimuat terpaksa harus menunggu. Keharusan menunggu, serta alasan lain yang bersifat prioirity, menyebabkan adanya kebutuhan untuk mengelola jurnal ilmiah secara mandiri. Sehingga berbagai informasi sehubungan dengan isi, dan format  jurnal, serta rambu-rambu untuk memperoleh akreditasi menjadi penting. Maka dalam tulisan ini masalah-masalah tersebut akan dicoba dielaborasi, dengan harapan peserta diklat memperoleh gambaran lengkap mengenai hal tersebut. 

Pengertian Jurnal Ilmiah

Jurnal sebagai bentuk publikasi berkala sering dipertukarkan dengan majalah, buletin, ataupun warta. Meskipun semuanya sering diembel-embeli dengan kata ilmiah, namun memiliki makna yang berbeda. Dalam AECT Task Force on Definition and Terminology (1977) membedakan Jurnal (Journal) dengan Majalah (Magazine) terletak pada keragaman materi. Jurnal hanya memuat satu bidang tertentu sedang majalah mencakup materi beberapa bidang. Adapun Buletin (Bulletin) dalam Webter’s New International Dictionary of the English Language  dimaknai sebagai informasi singkat dari pihak yang memiliki kewenangan, secara material hampir memiliki kesamaan dengan Warta  (Newsletter) seperti dinyatakan dalam Tedd (1990). Keduanya berbeda dengan Jurnal, karena jurnal berisi materi lebih kopmrehensif ketimbang keduanya.

Dengan demikian jurnal ilmiah dapat didefinisikan, sebagai bentuk publikasi ilmiah berkala yang memuat hasil kegiatan bidang keilmuan tertentu, baik berupa hasil pengamatan empirik maupun kajian konseptual, yang bersifat penemuan baru, maupun koreksi, pengembangan, dan penguatan terhadap paradigma, konsep, prinsip, hukum, dan teori yang sudah ada. Jurnal ilmiah merupakan sarana komunikasi antar anggota komunitas bidang keilmuan tertentu, ataupun pihak pemerhati bidang keilmuan tersebut. Dengan sarana ini, para ilmuwan berinteraksi satu sama lain dan saling mengisi untuk membangun suatu bidang keilmuan tertentu. Konsewensi dari karakteristik yang mengarah pada “eklusivitas” bidang keilmuan menyebabkan pembaca suatu jurnal ilmiah menjadi relatip terbatas.

Keterbatasan pembaca menyebabkan sering penerbitan jurnal ilmiah tidak memiliki kelayakan fiansial. Keberadaan jurnal ilmiah disebabkan kebutuhan nyata masyarakat ilmiah, untuk,  (a) memperoleh kritikan, saran, dan masukan lainnya bagi karyanya, (b) pengakuan keilmuan dan promosi jabatan, (c) rujukan terbaru, (d) ide aktual untuk kajian lanjutan, dan (e) mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, saat ini untuk kasus di Indonesia, kesinambungan jurnal ilmiah sangat tergantung pada kuatnya komitmen organisasi profesi dan lembaga perguruan tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

I s i

Melihat batasan, karakteristik, dan tujuan maka jurnal ilmiah  seyogyanya memuat (a) kumpulan informasi terbaru, (b) hasil objektif dari sebuah kajian ilmu, dan (c) rekomendasi. Untuk memperoleh bahan seperti yang dimaksud, maka langkah-langkah metode keilmuan, suka ataupun tidak, harus dilakukan. Direktorat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP3M) Depdikbud mengarahkan hendaknya isi jurnal ilmiah, adalah hasil penelitian. Walaupun demikian, dimungkinkan pemuatan artikel konseptual dan telaah (review) buku baru.

Ada hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam jurnal ilmiah, antara lain tulisan fiksi, berita keluarga, berita organisasi -bahkan berita peristiwa keilmuan sekalipu- ataupun foto penulis artikel. Artikel dalam jurnal diharapkan tetap aktual dan berguna meskipun penulisan artikel tersebut telah dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Dengan kata lain tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan. Sedang berita memiliki karateristik temporer yang cenderung tidak aktual.

Hasil penelitian empiris merupakan ladang yang tidak pernah kering sebagai sumber artikel dalam jurnal ilmiah. Malahan artikel hasil penelitian adalah tulisan yang paling sering dimuat dalam jurnal ilmiah. Sehingga ada identifikasi bahwa jurnal ilmiah adalah kumpulan artikel hasil penelitian empiris.  Walaupun hal itu tidaklah tepat benar, karena dimungkinkan jurnal ilmiah untuk memuat artikel kajian konseptual. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal ilmiah, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Secara umum DP3M Depdikbud dalam Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat edisi V (1999) telah menggariskan tentang tata cara penyusunan sebuah artikel hasil penelitian. Akan tetapi untuk kepentingan publikasi perlu diperhatikan gaya selingkung yang dikembangkan oleh jurnal yang bersangkutan.

Artikel hasil kajian konseptual memiliki bobot yang sama dengan artikel yang berasal dari hasil kajian empirik (penelitian). Selama kajian konseptual tersebut dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah dan cara-cara yang lazim dikenal secara meluas dalam dunia keilmuan, atau setidak-tidaknya diakui oleh komunitas bidang keilmuannya.  Artikel konseptual adalah refleksi pemikiran dalam bentuk tulisan atas suatu permasalahan keilmuan tertentu setelah mengkaji tulisan-tulisan yang relevan dengan permasalahan tersebut. Bahan tulisan relevan tersebut baik berupa artikel-artikel konseptual lainnya, laporan penelitian yang telah diterbitkan lebih dahulu , maupun teori-teori dasar yang dapat digali dari buku-buku teks.

Hal pokok yang menjadi dasar penilaian bermutu atau tidaknya jenis artikel ini, antara lain pada konsistensi pendapat atau pendirian penulis yang dikembangkan, mensikapi pikiran-pikiran sebelumnya yang pernah ada dalam mengupas permasalahan serupa. Dengan demikian orisinalitas dan aktulitas tulisan yang lahir dari pemikiran kritis penulis merupakan kekuatan utama jenis tulisan ini.  Artikel jenis ini kerap sering dipenuhi dengan potongan-potongan pemikiran penulis sebelumnya, sehingga artikel menjadi kumpulan pendapat orang, tanpa sodoran pemikiran baru dari penulis yang bersangkutan terhadap masalah yang disorot. Kecenderungan itu menyebabkan artikel jenis ini diapresiasi kurang baik, atau setidaknya-tidaknya dianggap kurang berbobot ketimbang hasil penelitian empiris.

Untuk memposisikan jenis artikel  ini pada persepsi yang tepat, maka tim penyunting harus bekerja keras untuk melihat secara jernih mutu tulisan ini secara menyeluruh. Artikel jenis ini yang hanya menghimpun –atau malahan memotong tulisan orang lain- tidak selayak dimuat karena memang kurang pantas dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Oleh sebab itu, kebiasaan seperti itu  sama sekali tidak memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Format

Format artikel dalam jurnal ilmiah –kajian konseptual maupun hasil penelitian empiris-  pada umumnya mencakup, bagian: (1) judul, (2) nama penulis, (3) abstrak dan kata-kata kunci, (4) pendahuluan, (5) isi (6) penutup atau rangkuman, dan (7) daftar rujukan/pustaka. Pada bagian isi pengembangannya sedikit berbeda untuk kedua jenis artikel tersebut. Isi untuk artikel kajian konseptual berisi materi pokok serta pembahasannnya, sedang untuk artikel hasil penelitian, bagian isi berisi (a) metode penelitian, (b) hasil penelitian, dan (c) pembahasan.

n      Judul

Judul artikel diharapkan mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas dalam artikel. Oleh karena itu pilihan katanya harus tepat, mnegandung unsur-unsur utama yang dibahas, jelas, dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi pembaca. Judul bagi artikel hasil penelitian harus menggambarkan keterkaitan variabel yang digunakan dalam penelitian, walaupun tidak harus sepanjang judul penelitian yang sebenarnya. Judul artikel hasil penelitian pada umumnya terdiri dari 5-15 kata (Suhadi,1999).

n      Nama Penulis

Nama penulis artikel ditulis tanpa disetai gelar akademik atau gelar apapun. Nama lengkap dengan gelar akademik boleh ditulis di sebelah bawah halaman pertama artikel. Nama lembaga tempat bekerja penulis juga ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika lebih dari tiga penulis, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul; nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki.

n      Abstrak dan Kata-kata Kunci

Abstrak artikel konseptual adalah ringkasan dari isi artikel yang dituangkan secara padat; bukan komentar atau pengantar penulis. Sedang dalam artikel hasil penelitian, abstrak memuat masalah atau tujuan penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian. Abstrak terdiri dari 50-70 kata yang disusun dalam satu paragraf, dengan format esei bukan enumeratif. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dan dengan format yang lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk beberapa ketukan).

Abstrak hendaknya disertai dengan 3-5 kata-kata kunci, yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang dibahas dalam artikel. Kata-kata kunci lajimnya berupa kata dasar atau kata yang berdiri sendiri (tunggal) bukan frasa atau rangkaian kata (Suhadi,1999). Namun untuk kasus tertentu, misalnya untuk memperoleh makna yang lebih dalam maka dimungkinkan untuk digunakan kata majemuk atau kata-kata kunci yang dibentuk oleh dua kata.

Contoh: pola tanam, perkembangan anak, negara kesatuan, dan lain sebagainya.   

n      Bagian Pendahuluan

Bagian ini menguraikan hal-hal yang mampu menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas. Bagian pendahuluan ini harus diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan dari pembahasan. Untuk artikel hasil penelitian, bagian ini berisi, (a) rumusan masalah, (b) tujuan, dan (c) deskripsi singkat mengenai kerangka pemikiran.

n      Isi

Bagian ini dalam artikel kajian konseptual umumnya berisi kupasan, analisis, argumentasi dan pendirian penulis mengenai masalah yang disoroti. Untuk kepentingan pemahaman pembaca bahasan dapat diurai  ke dalam beberapa sub-bagian. Tidak ada ketentuan dalam penguraian sub-bagian meskipun begitu perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak menjadi enumeratif seperti halnya hand out.

Untuk artikel hasil penelitian, bagian ini berkembang menjadi (a) metode penelitian, (b) hasil penelitian, dan (c) pembahasan. Metode penelitian memuat tentang rancangan penelitian, populasi dan sampel, uraian singkat operasionalisasi variabel, dan teknik analisis. Hasil penelitian memuat tentang hasil akhir dari proses kerja teknik analisis data, bentuk akhir bagian ini adalah berupa angka, gambar, dan tabel. Sedang pembahasan memuat abtraksi peneliti setelah mengkaji hasil penelitian dan teori-teori yang sudah ada dan dijadikan dasar penelitian.

n      Kesimpulan dan Saran/Tindak lanjut

Kesimpulan memuat ringkasan uraian, atau jawaban sistimatis dari masalah yang diajukan secara singkat. Lajimnya kesimpulan diikuti oleh saran-saran atau rencana tindak lanjut. Kesimpulan dan saran disajikan dalam format esei atau esei bernomor.

n      Daftar Rujukan/Pustaka

Bahan rujukan yang dimasukkan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar disebutkan dalam tubuh artikel. Rujukan dapar berupa buku teks, artikel dalam sebuah majalah, makalah, ataupun ketentuan perundang-undangan, serta dekumen lain yang dianggap akurat mendukung tulisan.

Gaya Selingkung

Gaya selingkung adalah pola teknis yang dikembangkan oleh pengelola suatu jurnal untuk memberi identitas jurnal sekaligus pedoman bagi pihak-pihak yang terlibat dalam rangkain kerja internal maupun pihak-pihak konstributor naskah. Setiap jurnal ilmiah memiliki gaya selingkung yang berlaku dalam secara mandiri, bisa merupakan hasil adaftasi dengan suatu jurnal lainnya atau pun hasil ramuan dari berbagai jurnal lainnya. Setiap jurnal diberi kemungkinan untuk menentukan gaya selingkungnya. Akan tetapi gaya selingkung suatu jurnal perlu juga memperhatikan ketentuan yang diberlakukan oleh badan-badan luar yang memiliki otoritas untuk hal itu. Misalnya PDII-LIPI yang menerapkan standar ISO dan SNI, atau DP3M Dirjen Dikti yang telah mengeluarkan Instrumen Evaluasi untuk  Akreditasi Berkala Ilmiah.

Gaya selingkung ini antara lain menyangkut ihwal muatan atau isi jurnal, format tulisan, kaidah tata tulis, gaya pencetakan, dan dimensi-dimensi fisik jurnal (IKIP MALANG, 1996). Sekali suatu jurnal telah memilih dan menetapkan suatu gaya, misalnya gaya pencetakan, maka gaya itu harus diikuti dan digunakan secara konsisten (Rifai, 1995). Sebagai contoh, rancangan kulit (cover design) yang telah digunakan pada saat pemerolehan ISSN  harus selalu digunakan tanpa perubahan kecuali warnanya. Dalam Instrumen Evaluasi untuk  Akreditasi Berkala Ilmiah, nilai  untuk aspek kemantapan penampilan dan aspek lainnya yang menyangkut hasil cetak jurnal merupakan 20% dari total nilai (DP3M Dirjen Dikti Depdikbud, 1997). Selain kedua sumber ketentuan, PDII-LIPI dan DP3M Dirjen Dikti, dimungkinkan juga untuk merujuk pada sumber lain. Karena jurnal diharapkan lebih familiar bagi pembaca di manca negara maka mengacu juga pada pedoman UNESCO misal, ukuran kertas yang di anjurkan, yaitu A4 (kuarto). Rujukan internasional seperti ini kemungkinan akan lebih berkembang seiring dengan semakin mudahnya jurnal dapat diakses lewat internet.

 

 

 

 

 

Contoh, Universitas Negeri Malang (Mulyadi,1999):

 

Dimensi Mekanik.

Ukuran dasar kertas adalah 15,5  X   21,7  sentimeter (bersih), dengan ukuran blok cetak  11,5  X  16,5 sentimeter. Kertas untuk  halaman kulit  (cover)  adalah kertas Manila lentur, dicetak biru langit sebagai  warna dasar dan biru tua, dengan  laminating. Kertas untuk  isi jurnal adalah  Hout Vrij Schriff (HVS)  70 gram berwarna putih. Warna dasar tinta untuk isi jurnal adalah  hitam.

Setting dilaksanakan dengan program Corel Ventura. Lempeng cetak (plat) yang digunakan adalah plat seng. Pencetakan adaalah dengan offset printing. Jurnal dijilid sempurna dengan lem. Jurnal dicetak   600 eksemplar, ditambah cetak lepas sebanyak   5  eksemplar perjudul artikel. Halaman iklan merupakan lembar lepas.

Tata Huruf  dan Tata Letak

Huruf yang digunakan pada seluruh halaman adalah serif, Times, kecuali untuk keperluan khusus. Judul jurnal menggunakan huruf  Times 30 butir tegak- tebal. Tulisan lain nya pada halaman kulit menggunakan huruf  Times 14 butir tegak-tebal. Huruf Times 9 butir tegak (kecuali nama jurnal 11 butir), dan isi tabel/gambar/diagram. Huruf times 9 butir tegak- tebal  digunakan untuk  jabatan dan alamat pada halaman judul serta judul tabel/gambar/bagian/foto pada teks induk . huruf  Times 10 butir digunakan untuk abstrak, kata-kata kunci, kutipan blok, catatan akhir, daftar rujukan, subbab peringkat I dan lampiran, dengan modus tegak/miring/tebal dan kapital/kecil seperti diatur dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (IKIP MALANG, 1996), Huruf Times II butir  digunakan untuk nama penulis , teks induk, dan judul subbab selain peringkat I, dengan modus tegak/miring/tebal dan kapital/kecil seperti diatur dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (IKIP MALANG, 1996). Huruf Tiimes 16 butir kapital-kecil tebal digunakan untuk judul artikel. Judul utama  (main title) dan anak  judul (subtitle) dipisahkan dengan dua titik (“:”).

Spasi antarhuruf menggunakan jarak normal. Spasi antarkata menggunakan jarak normal. Spasi antarbaris disesuaikan dengan ukuran huruf (“auto”). Spasi antarparagraf menggunakan sistem inden tanpa spasi, kecuali paragraf pertama artikel yang taanpa identasi. Spasi antara paragraf  dengan judul subbab di atasnya adalah 3 mm; dengan judul subbab dibawahnya adalah  8 mm; dengan judul tabel dibawahnya adalah 8 mm; dengan bagian di bawah atasnya adalah  8 mm; dengan bagian bawah  tabel di atasnya adalah 8 mm; dengan blok kutipan di atas nya adalah 10 mm; dengan foto tak berjudul di  atas/bawah/sampingnya adalah 4 mm.

Judul artikel dicetak 15 mm di bawah tepi atas, dengan huruf kapital – kecil tebal. Judul subbab peringkat I dicetak kapital semua, rata tepi kiri, tebal, peringkat 2 dicetak kapital kecil, rata tepi kiri, tebal; peringkat 3 dicetak kapital-kecil, rata tepi kiri, miring – tebal.

Catatan  kaki yang berisi identitas penulis, asal lembaga, dan sumber tulisan dicetak pada bagian bawah halaman pertama artikel dengan huruf miring dipisahkan dengan bagian teks oleh garis tebal sepanjang lebar halaman penuh.

Sirahan kiri (halaman genep) dicetak kapital semua, miring , berisi nama jurnal, jilid, nomor, bulan dan tahun penerbitan. Sirahan kanan (halaman ganjil) dicetak kapital kecil,miring, berisi nama akhir penulis dan judul artikel. Sirahan dicetak satu garis saja halaman pertama artikel tidak diberi sirahan. Nomor halaman dicetak di sisi kiri sirahan kiri (halaman genap) atau disisi kanan sirahan kanan (halaman ganjil). Nomor halaman pada halaman pertama artikel docetak dibawah tengah .

Tabel dan gambar/bagan  diusahakan dicetak dalam satu halaman . Pencetakan tabel dan gambar/bagan  tidak boleh membuat  halaman yang seharusnya berisi teks menjadi kosong. Nomor dan judul  tabel dicetak  di atas tabel dengan huruf  kapital-kecil tebal. Nomor dan judul gambar/bagan dicetak dibawah  gambar/bagan  dengan huruf kapital-kecil tebal. Isi tabel dan gambar/bagan  dicetak dengan huruf normal (tidak tebal).

Foto untuk penjelas uraian dapat dimuat. Foto penulis artikel tidak diperkenankan. Foto ditempatkan pada batas tepi (kiri atau kanan) teks utama, dan tidak boleh keluar dari tepi teks induk (body text) Judul foto dicetak dibawah  foto dengan huruf kapital-kecil. Tanda pisah (-) dalam cetakan  ditulis dengan satu garis panjang(-). Butir-butir teks yang disajikan tanpa maksud  mengurutkan diberi tanda bulet (  ‚) atau kotak hitam.

 

 

 

Agar terjaga konsistensi tampilan jurnal dengan gaya selingkung, sebaiknya pengelola jurnal memiliki petugas penyunting (setter) dan percetakan yang khusus dan tetap. Kekhususan dan ketetapan setter dan percetakan memungkinkan jurnal tersebut di pola dalam suatu program. 

Setter harus menjaga keajegan kaidah pencetakan isi dan mengatur tata letak  dan tipografi. Keajegan artikel itu mencakup judul, nama penulis, abstrak, kata-kata kunci, teks induk (body text), anak  judul, daftar rujukan, header, footer dan sebagainya. Sehubungan dengan itu, maka program desktop yang digunakan dalam pengesetan sebaiknya tidak ganti-ganti misalnya, Ventura saja atau Page Maker saja (Mulyadi,1999).

Percetakan harus menjaga keajegan kaidah gaya yang bersifat umum maupun khusus. Gaya umum misalnya menyangkut gatra mekanik pencetakan, seperti kertas yang digunakan  (ukuran, mutu, berat), ukuran blok cetak, penggunaan huruf (tipe ukuran dasar, warna) dan tiras (jumlah eksemplar cetak jilid dan cetak lepas). Gaya khusus menyangkut  penampilan sampul, misal pencetakan judul jurnal, volume atau jilid atau tahun  terbitan, nomor terbitan, waktu terbit, ISSN, daftar isi, dan sebagainya.

Kaidah-kaidah dalam gaya selingkung sebaiknya dinyatakan secara tertulis agar dapat menjadi pegangan bersama, baik bagi  penulis, penyunting, setter, pencetak, dan penilai usulan akreditasi. Khusus berkaitan dengan masalah teknis kerja, patokan tertulis ini penting karena, pertama, mengelola jurnal ilmiah  di perguruan tinggi sebagian besar dilakukan oleh “pekerja sambilan”. Mereka tidak punya waktu yang cukup untuk mengendalikan langsung setter maupun percetakan. Kedua, sedikit pula pengelola yang menguasai ihwal setting jurnal maupun teknis pencetakan.

Rambu Akreditasi

Bermutu tidaknya suatu jurnal ilmiah pada prinsipnya ditentukan oleh komunitas pembaca, baik itu dari kalangan akademisi maupun profesional. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai representasi dari komunitas itu, sejak tahun 1975 telah melakukan pemantauan majalah dan bentuk terbitan lainnya yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi, kelompok profesional, maupun pemerhati ilmu lainnya. Kemudian DP3M Dirjen Dikti mulai tahun 1990 menangkap kebutuhan perlunya suatu sistem evaluasi yang lebih menyentuh kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan lewat publikasi ilmiah khususnya di perguruan tinggi.

Sampai saat ini rambu-rambu dari kedua institusi itu yang harus menjadi sandaran bagi para pengelola publikasi ilmiah di perguruan tinggi dalam mengembangkan penerbitan jurnal. 

1. Pengajuan ISSN 

PDII-LIPI mengeluarkan ISSN mengacu kepada Standard Nasional Indonesia (SNI) 19-1950-1990 (PDII-LIPI, T.Th) dan menerapkan standar ISO 8-1997 terhadap terbitan yang mengajukan ISSN. Sebagai pedoman bagi pengaju, hal yang yang harus diperhatikan adalah, sebagai berkut:

a. Halaman kulit, adalah halaman yang terletak paling depan dari jurnal.

·        Judul  (nama) terbitan harus cukup ringkas dan boleh diperluas dengan judul tambahan. Jika judul merupakan singkatan, kepanjangannya harus dijelaskan melalui judul tambahan.

·        Judul dan ejaan judul harus tetap sama, baik pada halaman kulit maupun pada halaman judul, daftar isi, dan halaman indeks (jika ada).

·        Nomor terbitan ditulis dengan angka Arab dan tidak  dipecah menjadi bagian yang lebih kecil. Contoh: 1,2,3 bukan 1, 2a,2b. Penempatan boleh dimana saja asal ajeg. Nomor terbitan diurut untuk satu tahun penerbitan, bila jurnal tersebut terbit satu tahun dua kali, maka nomor terbitan adalah 1 dan 2.

·        Volume boleh ditulis dengan angka Arab bukan angka romawi. Contoh: Vol.15, No.6 . Penempatan boleh dimana saja asal ajeg.

·        Waktu terbit harus ditulis bulan dan tahunnya; tahun ditulis dengan angka Arab. Tidak boleh disingkat, contoh: Desember 1999 bukan Des. 1999. Tidak  ada ketentuan tentang penempatan waktu terbit, asalkan ajeg.

·        ISSN dicetak di pojok kanan atas. Empat digit pertama dan empat digit kedua dipisahkan oleh tanda “-”, contoh: ISSN 0852-8396.

·        Halaman kulit  tidak diberi nomor halaman dan  tidak  dipergunakan dalam penomoran halaman.

b. Halaman judul, adalah halaman yang terletak setelah halaman kulit.

·        Ketentuan penulisan judul, nomor terbitan, volume/jilid/tahun, waktu terbit, dan ISSN sama dengan ketentuan pada halaman kulit.

·        Susunan redaksi /penyunting, nama dan alamat penerbit, serta tahun pertama terbit dapat ditempatkan dihalaman judul  atau dibalik  halaman kulit asalkan ajeg.

·        Halaman judul tidak diberi nomor halaman dan tidak diperhitungkan dalam penomoran halaman.

c. Daftar isi ditulis dengan ketentuan sebagai berikut.

·        Penulisan judul terbitan, nomor terbitan, volume/jilid/tahun terbitan, waktu terbitan, dan ISSN sama dengan ketentuan yang berlaku pada halaman kulit.

·        Daftar isi ditempatkan pada halaman pertama setelah halaman kulit atau  setelah halaman judul jika ada halaman judul.

·        Judul artikel dan nama penulis artikel harus muncul pada daftar isi. Sebaiknya ada terjemahan judul artikel dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Nomor halaman awal artikel dan akhir artikel harus muncul pada daftar isi. Contoh: 146-152.

·        Halaman yang memuat daftar isi tidak diberi nomor halaman dan tidak diperhitungkan dalam penomoran halaman.

d. Halaman Teks, adalah halaman yang memuat artikel, ketentuannya sbb.:

·        Penulisan judul header pada halaman genap dianggap sesuai jika mencantumkan: judul terbitan berkala atau singkatannya, waktu terbit, volume, nomor dan nomor halaman yang dicakup artikel tersebut. Contoh: Medical Instrumentation, Vol 20, No.1, 1994:21-25.

·        Penulisan judul header pada halaman ganjil dianggap sesuai jika mencantumkan: Judul artikel atau singkatannya, pengarang atau  pengarang utama dalam karya bersama. Contoh: Blood Pressure Measurement  (Loubeer).

·        Penomoran halaman teks dianggap sesuai jika berkelanjutan pada satu volume, bukan dimulai dengan nomor baru pada setiap nomor. Awal penomoran pada suatu terbitan dimulai dari halaman pertama artikel.

·        Penempatan gambar dan tabel dianggap sesuai jika ditempatkan berdekatan dengan teks yang mengacunya. Penempatan sebagai lampiran sejauh mungkin dihindari.

e. Ketentuan lain-lain yang sebaiknya ada pada terbitan berkala adalah sbb.:

·        Penempatan frekuensi penerbitan tidak ada ketentuan, asal ajeg pada tempat yang sama pada setiap nomor terbitan.

·        Penempatan harga langganan atau harga satuan terbitan tidak ada ketentuan, asal konsisten pada tempat yang sama pada setiap nomor terbitan.

·        Penempatan alamat redaksi terbitan berkala tidak ada ketentuan, asal ajeg pada tempat yang sama pada setiap nomor terbitan.

·        Halaman yang memuat indeks hendaknya ada pada setiap akhir volume. Penomoran halaman indeks dibedakan dengan nomor urut halaman teks, misalnya dengan angka romawi.

·        Lembar abstrak/sari hendaknya diletakkaan pada permulaan setiap nomor. Untuk terbitan berbahasa Indonesia dan Inggris.

·        Lajur bibliografi tercantum pada bagian bawah halaman kulit suatu terbitan berkala, memuat: singkatan judul, volume, halaman, tempat terbit, tanggal terbit, dan ISSN Contoh:

 

Metalogika

 

 

Vol.2

 

No. 2

 

Hal. 1-55

Bandung

Januari 1999

ISSN

1410-6698

 

·        Jika judul terbitan berkala dicetak pada punggung terbitan, ia harus d cetak sedemikian rupa sehingga judul dapat dibaca, jika terbitan terletak dengan sampul depan menghadap ke atas. Selain judul, juga dicantumkan volume, nomor, waktu terbit dan nomor halaman yang dicakup. Contoh: Medical Instrumention, Vol.20, No.2, April 1994: 61-125.

Permohonan ISSN ke PDII-LIPI dikirimkan ke alamat: Pusat Dekumentasi dan Informasi ilmiah-LIPI, Jalan Jenderal Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan 12190. Persyaratan yang harus dilampirkan adalah:

 

·Empat (4) lembar poto kopi halaman kulit;

·Dua (2) lembar poto kopi halaman judul, terutama susunan redaksi;

·Dua (2) lembar poto kopi daftar isi terbitan perdana;

·Mengisi data bibliografi lengkap (lihat lampiran);

·Mengisi formulir evaluasi (lihat lampiran);

·Biaya administrasi sebesar Rp75.000,00

2. Akreditasi DP3M Dirjen Dikti

Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DP3M), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi setiap tahun menyelanggarakan akreditasi bagi jurnal yang belum memperoleh akreditasi. Selain itu jurnal-jurnal yang terakreditasi pun, tiga tahun sekali harus mengusulkan kembali untuk mendapatkan akreditasi yang baru.

a.      Prosedur pengajuan usulan akreditasi

¨      Pengajuan usul disampaikan oleh Ketua dewan redaksi majalah/jurnal kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi u.p. Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat.

¨      Mengisi format Usulan Akreditasi Jurnal Ilmiah (rangkap 3).

¨      Mengisi formulir Isian Penilaian Akreditasi Berkala berdasarkan Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah yang merupakan evaluasi diri terhadap kualitas jurnal (rangkap 3).   

¨      Melampirkan jurnal ilmiah yang sudah terbit selama 2 tahun terakhir, masing-masing penerbitan 3 eksemplar (merupakan persyaratan utama untuk bisa dievaluasi).

b.  Teknik Penilaian

Penilaian didasarkan pada sembilan (9) kriteria dalam instrumen evaluasi. Setiap kriteria dijabarkan menjadi butir-butir penilaian. Setiap butir penilaian memiliki skor yang merupakan penilaian langsung terhadap kinerja sejumlah nomor terbitan dan/atau jilid, serta keterangan yang diberikan oleh pengelola. Nilai akhir merupakan angka kumulatif semua kriteria, dimana setiap kriteria memiliki bobot masing-masing, adalah:

Rangking

Kriteria

Bobot

(Skor Kumulatif)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Penyunting    

Substansi     

Penampilan  

Gaya Penulisan       

Keberkalaan

Nama Berkala          

Kelembagaan          

Tiras  

Lain-lain

30

25

10

10

10

5

5

5

Catatan

 

Berdasarkan norma di atas, hasil penilaian kinerja dan jawaban pengelola dihimpun. Selanjutnya ditetapkan kriteria hasil penilaian sebagai berikut:

0  -  20   =  Sangat Kurang

21 -  40  =  Kurang

41 -  60  =  Sedang

61 -  70  =  Cukup

76 -  90  =  Baik

91 – 100 =  Sangat Baik

Jurnal yang diajukan akan dinyatakan berakreditasi jika sedikit-dikitnya memperoleh nilai baik. Posisi penyunting dan substansi sangat penting dalam keseluruhan penilaian, yakni 55 dari nilai untuk  semua kriteria adalah 100. Ini berarti bahwa “sumbangan relatif” nilai penyunting  terhadap total nilai  adalah sebesar 55 persen. Jika angka lolos (passing grade) untuk akreditasi adalah 78 (Ditbinilitabmas Ditjen Dikti, 1997), maka “sumbangan relatif” nilai aspek  cetak terhadap angka lolos akreditasi adalah  70,51persen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Instrumen Evaluasi

 

1. Nama Berkala

·        Nama berkala hendaknya singkat sehingga mudah diingat.

·        Nama yang dipakai sebaiknya menonjolkan bidang ilmu, dan bukannya nama lembaga atau kota penerbitnya.

·        Istilah dan kata yang terkandung di dalam nama (majalah, berkala, jurnal, buletin, berita, pemberitaan, risalah, forum, warkat warta, nota teknis, kontribusi, komunikasi) seyogianya dipakai dengan makna yang tepat dan sesuai.

·        Dituntut adanya keselarasan antara nama dan disiplin ilmu, bidang akademis atau profesi.

 

 

a. Kesesuaian Nama

§         Sangat pesifik dan sesuai dengan spesialisasi bidang ilmu

§         Spesifik dan menggambarkan disiplin bidang ilmu   

§         Agak spesifik tetapi kurang mencerminkan bidang ilmu        

§         Nama bersifat umum         

§         Menggunakan nama lembaga dan/atau lokasi                                  

 

5

4

3

2

 1

 

2. Kelembagaan Penerbit

·        Lembaga penerbit hendaklah merupakan badan hukum (seperti lembaga penelitian, perguruan tinggi, organisasi profesi ilmiah) yang mampu memberikan jaminan kesinambungan dana dan naungan hukum.

·        Pengelolaan penerbitan seyogianya dimandatkan pada suatu organik bersifat teknis ilmiah yang diduga tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya perubahan reorganisasi lembaga sehingga akan memiliki kantor, ruang kerja dan alamat yang tepat.

·        Kegiatan penerbitan  harus  melembagakan  landasan pembakuan nasional dan internasional, serta mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya dalam kaitannya dengan ISSN, SIUPP, SIT.

 

a. Pranata Penerbit

§         Satuan teknis ilmiah organisasi, berdasarkan mandat yang jelas   

§         Lembaga induk                                                                          

§         Bentuk satuan lain                               

§         Tidak Jelas                                         

b. Pelembagaan Landasan Hukum

§         ISSN, SIT, SIUUP                               

§         SK Pimpinan                                       

§          Tidak ada                            

 

3

2

1

0

 

2

1

0

 

3. Penyunting

·        Penyuntingan dituntut melibatkan mitra bestari (peer group) dari lingkungan luas sebagai penelaah ahli.

·        Para penyunting hendaklah terdiri atas perorangan berkualifikasi dan berpengalaman yang mempunyai waktu, kemauan, kemampuan, dan commitment.

·        Pengangkatan resmi sebagai anggota sidang penyunting dilakukan bukan karena jabatan struktural ex officio tetapi karena kualifikasi kepakaran seseorang.

·        Penggarisan tugas (misalnya penyunting penyelia, penyunting pelaksana, penyunting tamu) seyogianya dinyatakan secara tegas dan gamblang.

·        Cakupan mandat bidang keilmuwan diupayakan agar lengkap terwakili oleh anggota sidang penyunting.

 

 

a. Pelibatan Mitra Bestari sebagai Penelaah Ahli

§         Pakar internasional (luar > dalam negeri)

§         Pakar luar dan dalam negeri dari luar lingkungan sendiri     

§         Pakar dari lingkungan setempat            

§         Tidak memakai penelaah luar              

b. Kualifikasi Penyunting

§         Lebih dari 50% S2/peneliti dan/atau S3/ahli peneliti             

§         Kurang dari 50% S2/peneliti dan/atau S3/ahli peneliti          

§         Hanya S1 atau di bawahnya     

c. Keterlibatan Aktif Penyunting Pelaksana

§         Seluruh waktunya           

§         Setengah waktunya       

§         Sebagian kecil waktunya          

d. Keperwakilanan Pakar Bidang Ilmu  dalam Komposisi Penyunting

§         Baik  

§         Cukup

§         Kurang

e. Penggarisan Tugas

§         Ada dan berfungsi         

§         Ada tetapi kurang berfungsi     

§         Tidak jelas

 

10

7

4

0

 

5

3

1

 

5

3

1

 

5

3

1

 

5

3

1

4. Kemantapan Penampilan

·        Konsistensi ukuran, tata letak, tipe huruf, jenis kertas, sistem penomoran, jumlah halaman per jilid, dan lain-lainnya dituntut agar dijaga.

·        Penampilan umum berkala hendaknya diusahakan agar memiliki tanda kenal yang cukup memikat (eye catching) sehingga menonjol jika tersimpan dalam meja pajangan kumpulan majalah yang baru datang.

 

 

 

 

a. Ukuran Berkala

§         Mantap                

§         Tidak       

b. Tata Letak

§         Mantap   

§         Tidak       

c. Tipe Huruf

§         Mantap    

§         Tidak         

d. Jenis Kertas

§         Mantap    

§         Tidak         

e. Konsistensi Jumlah Halaman/Jilid

§         Selisih tidak melebihi 25%       

§         Selisih melebihi 25%       

f. Warna Sampul

§         Mantap    

§         Tidak       

g. Berpenciri, Terkenali dari Jauh

§         Ya             

§         Ya/Tidak  

§         Tidak       

h. Rancangan Memikat

§         Ya 

§         Tidak         

i. Kesan Umum Kemantapan

§         Terpelihara

§         Tidak       

 

2

1

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

2

1

0

 

1

0

 

1

0

5. Gaya Penulisan

·        Kemantapan tata cara penyajian (sistematik, pembaban, abstrak dan kata kunci), penulisan (gaya, sistem pengacuan pustaka, daftar kepustakaan), penyuguhan pelengkap dan pendukung (macam gambar, foto, tabel, grafik), serta ketaatan pada gaya selingkung mutlak  dipertahankan.

·        Kemampuan pencatuman baris kredit yang meliputi nama-nama penulis (harus tanpa gelar akademis), dan alamat lembaga tempat kegiatan penelitian supaya dilakukan secara taat asas.

·        Petunjuk jelas bagi penulis dalam setiap jilid dituntut untuk selalu diberikan.

·        Pembacaan contoh cetak oleh penulis sebagai kendali gaya penulisan seyogianya diselenggarakan.

 

a. Sistematika Penulisan

§         Lengkap              

§         Kurang     

b. Konsistensi  Pembaban

§         Ya             

§         Tidak       

c. Abstrak dan Kata Kunci

§         Ada          

§         Tidak       

d. Penyajian Gambar dan Tabel

§         Informatif dan Komplementer  

§         Kurang       

e. Cara Pengacuan dan Pengutipan

§         Baku        

§         Tidak

f. Penyusunan Daftar Pustaka

§         Baku        

§         Tidak         

g. Pencantuman Nama Penulis dan Alamat Lembaga

§         Baku        

§         Tidak       

h. Petunjuk Bagi Calon Penulis dalam Setiap Jilid

§         Rinci          

§         Kurang Jelas      

§         Tidak ada

i. Pembacaan Contoh Cetak oleh Penulis

§         Dilakukan            

§         Tidak 

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

1

0

 

 

1

0

 

2

1

0

 

1

0

6. Substansi

·        Cakupan bidang keilmuan keseluruhan majalah merupakan indikator mutu yang penting, makin spesialisasi makin tinggi nilainya

·        Sumbangan majalah pada kemajuan ilmu dan teknologi, yang diukur dari derajat keorisinilan tulisan yang dimuat.

·        Bobot pustaka acuan, yang ditentukan dengan melihat perbandingan kadar sumber primer, serta kemutakhiran bahan yang diacu dengan melihat proporsi terbitan 10 tahun terakhir. Keseringan mengacu pada diri sendiri (self citation) mengurangi nilai.

·        Analisis, sintesis, dan penyimpulan, serta perampatan dan pencetusan teori baru yang secara mapan dituangkan dalam tulsan-tulisan yang dimuat akan meningkatkan martabat berkala ilmiah.

·        Dampak ilmiah, yang antara lain diukur dari keseringan diacu, kemampuan berfungsi sebagai sumer ilham, dan wibawa temuan, merupakan parameter penentu mutu berkala yang penting.

·        Keuniversalan lebih dipentingkan dibandingkan kenasionalan, apalagi kelolakan.

 

 

a. Cakupan Keilmuan Berkala

§         Superspesialisasi (misalnya taksonomi jamur)          

§         Spesialis (misalnya fisiologi)    

§         Cabang ilmu (misalnya botani)

§         Disiplin (misalnya biologi)         

§         Bunga rampai     

b. Aspirasi Wawasan Berkala

§         Internasional       

§         Regional              

§         Nasional              

§         Kawasan  

§         Lokal        
c. Keorisinilan Sumbangan Berkala pada  Kemajuan Ilmu dan Teknologi

§         Tinggi      

§         Cukup      

§         Sedang   

§         Kurang

§         Rendah

d. Dampak Ilmiah Berkala

§         Tinggi        

§         Cukup      

§         Sedang   

§         Kurang     

§         Rendah    

e. Kadar Perbandingan Sumber Acuan Primer : lainnya

§         > 80%      

§         40–80%  

§         < 40%      

f. Derajat Kemutakhiran Pustaka Acuan

§         > 80%      

§         40–80%  

§         < 40%      

g. Analisis dan Sintesis

§         Baik         

§         Cukup      

§         Kurang     

h. Penyimpulan dan Perampatan

§         Baik         

§         Cukup      

§         Kurang  

 

2,5

2

1,5

1

0

 

5

4

3

2

1

 

5

4

3

2

1

 

2,5

2

1,5

1

0,5

 

2,5

1

0,5

 

2,5

1

0,5

 

2

1

0,5

 

3

2

1

 

 

7. Keberkalaan

·        Ketaatan periode frekuensi penerbitan haruslah sesuai dengan jadwal yang ditentukan, dan/atau sesuai dengan nama yang disandang majalah. Perlu dicatat bahwa penerbitan tak teratur (irregular) merupakan ukuran keberkalaan yang diperkenankan, asal tegas dikatakan.

·        Kemantapan tata penomoran  perlu dijaga  sesuai dengan keberkalaan dengan mencantumkan nomor jilid (dapat dengan angka romawi) dan nomor bagian (umumnya dengan angka arab) yang tidak bergantung pada tahun terbit.

·        Penomoran halaman yang berkesinambungan dari 1 – n dalam suatu jlid yang belum ditutup dengan indeks isi, dan bukan mulai lag dari halaman 1 untuk setiap nomor bagian yang terbit, merupakan indikator keberkalaan yang baik.

·        Indeks penutup jilid  sebagai  petanda  dilakukannya  kendali  keberka-laan  supaya diadakan.

·        Ketersediaan dana dan naskah berkelanjutan adalah salah satu ukuran penjamin keberkalaan.

 

 

a. Frekuensi Penerbitan

§         Sesuai dengan jadwal yang ditentukan           

§         Tidak sesuai       

§         Tidak menyebut jadwal penerbitan      

b. Tata Penomoran Jurnal

§         Konsisten            

§         Tidak konsisten tetapi bersistem         

§         Tidak bersistem               

c. Penomoran Halaman

§         Berurut dalam satu jilid   

§         Tiap nomor dimulai dengan halaman

d. Indeks Tiap Jilid

§         Ada          

§         Tidak ada              

e. Sumber Dana

§         Terjamin dengan teratur              

§         Terjamin tetapi tidak teratur      

§         Tidak terjamin       

f. Ketersediaan Naskah

§         > 200% isi satu nomor 

§         100% isi satu nomor      

§         < 100% isi satu nomor  

 

2

1

0

 

2

1

0

 

1

0

 

1

0

 

2

1

0

 

2

1

0

8. Tiras

·        Berkala ilmiah harus dicetak (bukan distensil ataupun difotokopi) minimum 300 eksemplar, dengan syarat 150 tersebar langsung melalui langganan atau pertukaran tetap.

·        Berkala hendaklah memberikan cetak lepas (reprint, offprint) kepada setiap penulis memperluas keterjangkauan.

·        Peraturan wajib simpan mutlak harus ditaati. Ketersediaan berkala dalam perpustakaan utama merupakan salah satu pengukur keluasan persebaran.

 

a. Tiras Minimum Terpenuhi

§         Ya             

§         Tidak       

b. Menyediakan Cetak Lepas

§         Ya             

§         Tidak       

c. Memenuhi Wajib Simpan (di Arsip Nasional atau PDII)

§         Ya

§         Tidak       

 

2

0

 

1

0

 

2

0

9. Lain-lain

a. Butir-butir yang diperkenankan

·        Iklan dapat dimuat asal dicantumkan dalam halaman berpenomoran khusus yang tidak mengganggu kesinambungan penomoran halaman jilid, dan harus terpisah sehingga bisa dibuang dalam proses penjilidan.

·        Artikel ulasan dan tinjauan atas undangan dapat dipertimbangkan pemuatannya, malahn dianjurkan untuk terbitan oleh organisasi profesi sebagai penampung pertanggungjawaban ilmiah ketua perhimpunan.

·        Rubrik tinjauan buku baru dianjurkan diadakan.

·        Pemuatan obituari tokoh ilmuwan dalam bidang cakupan majalah sangat dianjurkan.

b. Butir-butir yang tidak boleh ada

·        Foto penulis artikel, kecuali ketua organisasi profesi ilmiah yang memba-cakan orasi pertanggungjawaban ilmiah atas undangan.

·        berita keluarga, berita organsasi, berita peristiwa keilmuwan.

 

 

a. Butir-butir yang Diperkenankan

§         Iklan

§         Artikel ulasan dan tinjauan atas undangan

§         Rubrik tinjauan buku baru

§         Pemuatan obituari tokoh ilmuwan

b. Butir-butir yang Tidak Boleh Ada
§         Foto penulis artikel

§         Berita keluarga, berita organisasi, berita peristiwa keilmuan

 

 

Daftar Rujukan

AECT Task Force on Definition and Terminology .1977. Educational Technology: A Glossary of Terms. Washington, DC.: Association for Educational Communications, and Technology.

Ali Saukah. 1999. Rambu-rambu Akreditasi Jurnal Ilmiah. Makalah pada Semiloka. UM Malang.

Keputusan Menko Wasbang No. 38/KEP/K.WASBANG/8/1999 tanggal 24 Agustus 1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kredit,

Mulyadi Guntur.S. 1999. Penyuntingan Naskah Pra-cetak.  Makalah pada Semiloka. UM Malang.

Rifai,MA. 1995. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan penerbitan Karya Ilmiah di Indonesia. Gajah Mada University Press. Jogjakarta

Suhadi Ibnu. 1999. Format dan Isi Jurnal Ilmiah.  Makalah pada Semiloka. UM Malang.

——.1961. Webster’s New International Dictionary of the English Language. 2nd Edition. 

——. 1999. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. DP3M Dirjen Dikti Depdikbud. Edisi V. Jakarta.

———. 1997. Instrumen Evaluasi untuk  Akreditasi Berkala Ilmiah,  DP3M Dirjen Dikti Depdikbud, Jakarta.

 

 

 



[i] Ketua Lemlit Unpas. Pimpinan Redaksi pada beberapa Jurnal Ilimiah.  

About these ads

Responses

  1. Assalamualaikum Pak Prof. Rully

    Saya Budi, peserta pelatihan penulisan jurnal ilmiah di Jatinangor kemarin.
    Wah blog bapak penuh dengan materi ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.
    Blog saya sedang dalam penyusunan ulang, maklum domain hostingnya baru beres administrasinya.. jadi belum sempat upload backup postingan
    Mohon perkenan bapak untuk menerima silaturahmi saya
    Terima kasih…
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  2. mohon diberi tahu cara penulisan jurnal terakreditasi

  3. Ass.wr.wb Prof Rully,
    Saya sangat tertarik membaca materi yang terkait dengan jurnal ini Prof. Kebetulan Fakultas kami akan menerbitkan jurnal untuk 2 prodi, ada yang saya ingin tanyakan, apabila jurnal akan diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yaitu januari dan juli. Terbitan pertama adalah di Juli 09 maka penomerannya menjadi Vol.1 No.1, untuk jan 10 bagaimana penomerannya? apakah vol.1 No.2 atau vol.2 No.1,
    Mohon bantuannya Prof, terima kasih sebelumnya
    Wass.Wr.Wb

    • Untuk terbitan jurnal kalau masih dalam 1 tahun yang diganti cuma penomorannya pak, bukan volumenya.
      Contoh terbitan januari dan juli tahun 2012
      vol 1 no 1 Januari 2012 dan vol 1 no 2 Juli 2012
      Dan jika masih dalam 1 volume, maka penomoran halaman juga bersambung pak.
      Contoh, jurnal januari sampai halaman 100, maka jurnal juli meneruskan mulai 101-selesai

      Terimakasih

  4. ass. prof., jika pada tahun2 sblmnya sebuah jurnal tidak memenuhi persyaratan akreditasi, apakah pada tahun kemudian bisa diusahakan untuk menjd terakreditasi dgn mengubah format spy ajeg dan penambahan nama untuk memenuhi spesifikasi keilmuan. jika ya, apkah penerbitan edisi terbaru dianggap sebuah jurnal baru dgn issn baru pula? trmksh, sy mengharap jwban dr bapak. wassalam.

    • ya bisa

  5. Ass. wr.wb.
    Prof. saya mengucapkan terima kasih atas penjelasannya. Tetapi saya ingin lebih spesifik lagi mendapatkan petunjuk agar jurnal kami dapat segera terakreditasi. Patut diketahun jurnal kami Civicus (jurnal PKn FPIPS UPI) sudah dinilai tahun 2008 dan ada kabar tahun 2009 sudah diumumkan tetapi nilainya hanya 35. Kami dituntut untuk mengajukan selama 2 tahun lagi. Bulan ini kami akan mengajukan sesuai saran DP2M dikti. Mohon petunjun praktisnya…..tks
    wss.wr.wb.

  6. Salam, Prof. Rully,
    Saya hendak menanyakan perihal format jurnal ilmiah terakreditasi.
    1. Bapak menulis standar ukuran yg direkomendasikan UNESCO adalah ukuran A4, namun dlm contoh yg Bapak berikan (Univ. Negeri Malang), dimensi mekanik yg tertera di sana: “Ukuran dasar kertas adalah 15,5 X 21,7 sentimeter (bersih), dengan ukuran blok cetak 11,5 X 16,5 sentimeter.” Apakah ini berarti: (1) UNM tdk mengikuti standar UNESCO; atau (2) yg dimaksud dng A4 adalah ukuran kertas sblm dilipat, sdgkan ukuran jurnalnya adalah setengah A4?
    2. Apakah saya bisa menemukan scr online panduan UNESCO yg Bapak maksud dlm artikel ini?
    Mohon petunjuknya. Terima kasih banyak sebelumnya.

  7. ok Prof, trim atas amalnya semoga bermanfaat dan mendapat berkah dari ALLAH…. amin salam.

  8. Thanks banget Prof….

  9. [...] : http://rullyindrawan.wordpress.com/2008/12/02/isi-format-dan-rambu-akreditasi-jurnal/ Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this [...]

  10. Saya tertarik dengan tulisan prof, hal ini akan membantu kita semua


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: